Rusia
Jumat, 03 Juni 2022 22:38 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) - Serangan Rusia ke Ukraina sudah berlangsung selama 100 hari. Kedua belah pihak terus bertarung dan hingga saat ini belum ada yang bisa mendeklarasikan kemenangan. Pertempuran telah terpusat di Ukraina Timur ketika Rusia mengalihkan fokusnya untuk menguasai Donbas. Wilayah yang mencakup Luhanks dan Donetsk. Fokus itu kemudian semakin menyempit dengan upaya besar Rusia untuk menguasai Donetsk. Kota Severdonetsk yang merupakan benteng terakhir provinsi tersebut telah menjadi medan pertempuran brutal. Rusia telah menguasai sebagaian besar kota tersebut. Sementara Ukraina masih terus melawan dengan kemungkinan besar mereka akan mundur ke kota Lychisank.
Selama 100 hari perang, ribuan orang meninggal, jutaa orang mengungsi, puluhan kota hancur berantakan dan mesin perang berserakan menjadi korban. Sekilas kita akan melihat lagi bagaimana jalannya perang selama 100 hari ini.
Serangan Rusia yang dimulai pada 24 Februari 2022 dan berlangsung hingga saat ini bisa dibagi dalam tiga fase.
Fase pertama berlangsung sekitar 17 hari sejak serangan dimulai. Selama kurun waktu tersebut pasukan Rusia menguasai 47.600 mil persegi wilayah Ukraina. Mereka membuat kemajuan yang relatif cepat di selatan, merebut kota Kherson, Melitopol, dan Berdyansk dalam minggu pertama.
Namun pertempuran yang terjadi di utara Kyiv menceritakan kisah yang sangat berbeda. Setelah maju dari Belarusia, pasukan Rusia dihentikan di pinggiran ibukota.
Pada hari pertama, Rusia melancarkan serangan udara di bandara Hostomel. Mereka berharap menggunakan bandara untuk membuat jembatan darat yang memungkinkan pembentukan pasukan untuk menyerang Kyiv di dekatnya.
Namun serangan itu berhasil dihalau. Serangan rudal Rusia lebih lanjut menghancurkan Antonov AN-225, pesawat terbesar di dunia, yang ditempatkan di Hostomel. Jenis serangan berani yang terlihat di bandara dengan pasukan udara lapis baja ringan adalah ciri khas taktik Rusia pada tahap awal perang.
Ukraina cukup berhasil dalam menahan serangan ini. Dan kolom lapis baja lebih lambat Rusia yang mengikuti serangan pertama berhasil dipukul mundur dengan sebagian hancur.
Masalah juga meningkat untuk pasukan Rusia yang menduduki selatan. Kemajuan mereka telah melambat. Itu jauh dari yang dibayangkan prajurit Rusia bahwa mereka akan mendapat sambutan penduduk hingga akan mudah menguasai wilayah.
Saat perang memasuki minggu ketiga, momentum awal Rusia hampir sepenuhnya terhenti. Pertempuran untuk Kyiv yang terjadi di pinggiran kota dan kota-kota satelit di sekitar ibu kota telah dimenangkan oleh Ukraina.
Kondisi ini memaksa perubahan fokus Rusia di utara yang kemudian membawa perang ke fase kedua. Fase ini dimulai pada 13 Maret hingga 9 April ketika Rusia memutuskan untuk mundur dari Ukraina utara dan akan memfokuskan kekuatan untuk menguasai Donbas.
Mundurnya Rusia segera mengungkapkan bagaimana kehancuran di zona yang mereka duduki. Yang paling mengejutkan di Bucha yang terletak 16 mil barat laut Kyiv. Puluhan mayat ditemukan di jalan. Kondisi ini memunculkan kemarahan internasional yang kemudian memutuskan mengusir Rusia dari komisi hak asasi manusia PBB.
Fase kedua perang juga menyoroti kehancuran total Mariupol. Pelabuhan utama telah dikepung dalam waktu seminggu setelah invasi, tetapi sekelompok pasukan Ukraina masih menduduki bagian kota sepanjang bulan Maret dan April.
Fase ketiga
Sementara di sisi timur Rusia bersiap untuk masuk pada fase ketiga. Pada fase yang dimulai pada 10 April ini pasukan Rusia terlihat jelas berniat merebut wilayah Donbas di timur. Mereka telah membuat keuntungan yang stabil di sana sepanjang bulan Mei lalu. Rusia juga menarik mundur pasukannya dari kota terbesar kedua Ukraina Kharkiv untuk memperkuat serangannya ke Donetsk.
Pada tahap ini terliha Rusia mulai bertarung dengan lebih efektif. Pasukannya tampaknya lebih berhasil menggunakan taktik senjata gabungan – di mana unit artileri dan udara bekerja bersama-sama dengan pasukan darat yang maju . Ini memungkinkan mereka untuk merayap maju di Ukraina. Tetapi akibat nyata dari taktik ini adalah kehancuran total kota-kota di depan mereka.
Pada fase ini Ukraina juga meraih beberapa keberhasilan. Pada hari ke-50, rudal anti-kapal diyakini telah menenggelamkan Moskva, kapal utama armada Laut Hitam Rusia.
Sementara perlawanan Ukraina yang berkepanjangan di Mariupol akhirnya harus berakhir. Pada 27 April, Presiden Putin memerintahkan pengepungan pabrik baja Asovstal untuk memaksa pasukan ukraina menyerah. Tetapi butuh hampir 30 hari lagi sampai pasukan terakhir di Azovstal yang didominasi batalyon Azov menyerah. Sepanjang waktu itu Rusia membombardir kompleks dengan serangan udara dan artileri. Rusia akhirnya berhasil menguasai sepenuhnya Mariupol.
Lantas apa selanjutnya? Belum ada kejelasan ujung dari perang ini. Presiden Ukraina Volodymir Zelenskyy mengatakan antara 60 hingga 100 tentara Ukraina terbunuh setiap hari, dengan 500 lainnya terluka. Ini adalah jumlah yang besar. Jika angka itu berlanjut selama 100 hari ke depan, itu bisa berarti 60.000 orang tewas dan terluka. Angka kerugian Rusia kemungkinan juga tinggi.
Medan perang juga akan semakin rumit setelah Amerika baru-baru ini mengatakan akan mengirim sistem roket artileri ke Ukraina. Selain itu berbagai negara terus memasok Ukraina dengan senjata mematikan dari rudal antikapal hingga sistem pertahanan udara.
Yang pasti, apa yang disebut sebuah 'operasi khusus' yang diharapkan Rusia akan berlangsung kurang dari 100 jam kini telah mencapai 100 hari. Dan ada kemungkinan itu akan meregang hingga 200 hari dan mungkin lebih. (*)
Bagikan