bahasa Arab
Jumat, 31 Juli 2026 19:14 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) - Ungkapan "elephant in the room" telah menjadi bagian dari percakapan sehari-hari dalam bahasa Inggris. Frasa ini digunakan untuk menggambarkan masalah besar yang sebenarnya diketahui semua orang, tetapi sengaja dihindari atau enggan dibahas.
Meski terdengar unik, asal-usul ungkapan tersebut ternyata berakar dari dunia filsafat sebelum akhirnya berkembang menjadi istilah populer yang digunakan hingga sekarang.
Berawal dari Diskusi Filsafat
Berdasarkan pembaruan Oxford English Dictionary (OED), salah satu penggunaan paling awal frasa ini tercatat pada 1935 dalam esai berjudul A Philosopher Among the Metaphysicians karya filsuf dan psikolog Amerika, Harry Todd Costello.
Dalam esainya, Costello membahas perbedaan antara cara berpikir ilmiah dan metafisika mengenai sesuatu yang dapat diamati dan yang tidak dapat diamati.
Ia menggunakan ilustrasi seekor gajah di dalam ruangan untuk menjelaskan bahwa seseorang tidak bisa membuktikan sesuatu yang tidak dapat diamati secara langsung. Kala itu, ungkapan tersebut belum bermakna sebagai "masalah yang sengaja diabaikan", melainkan sebagai contoh dalam perdebatan filsafat mengenai batas pengetahuan manusia.
Akar Ungkapan Sudah Muncul Sejak Abad ke-19
Meski dipopulerkan Costello, metafora gajah sebenarnya telah muncul jauh lebih awal.
Pada 1814, penulis fabel Rusia Ivan Krylov menulis kisah berjudul The Inquisitive Man. Dalam cerita tersebut, seorang pria menceritakan berbagai benda kecil yang ia lihat di sebuah museum, mulai dari lalat, kupu-kupu, hingga serangga mungil. Namun, ketika ditanya mengenai seekor gajah raksasa yang dipamerkan di tempat yang sama, ia mengaku tidak melihatnya.
Cerita tersebut menjadi sindiran terhadap orang yang terlalu fokus pada hal-hal kecil hingga mengabaikan sesuatu yang sangat jelas di depan mata.
Konsep serupa juga muncul dalam karya Mark Twain, The Stolen White Elephant (1882), yang menggunakan gajah sebagai simbol sesuatu yang begitu besar sehingga mustahil untuk diabaikan atau hilang begitu saja.
Makna "Elephant in the Room" Berubah pada Era Modern
Selama beberapa dekade, frasa "elephant in the room" lebih banyak digunakan dalam diskusi filsafat dan logika.
Maknanya mulai bergeser pada 1980-an, ketika ungkapan tersebut digunakan secara luas untuk menggambarkan persoalan besar yang diketahui banyak orang tetapi sengaja tidak dibicarakan.
Popularitasnya semakin meningkat setelah terbitnya buku An Elephant in the Living Room pada 1984, yang mengangkat kisah anak-anak yang tumbuh bersama orang tua pecandu alkohol. Judul buku tersebut menggunakan metafora "gajah di ruang tamu" untuk menggambarkan masalah keluarga yang nyata tetapi terus disembunyikan.
Sejak saat itu, "elephant in the room" menjadi idiom yang lazim digunakan dalam berbagai situasi, mulai dari dunia politik, bisnis, hingga kehidupan sehari-hari, untuk merujuk pada persoalan besar yang semua orang sadari, tetapi tidak ada yang berani membahasnya secara terbuka. (*)
Bagikan
bahasa Arab
7 bulan yang lalu