CD Bangkit Lagi di Tengah Lelah Streaming

Minggu, 08 Februari 2026 23:24 WIB

Penulis:Pratiwi

Editor:Pratiwi

radio.jpg

INGGRIS (sijori.id) – Dua dekade lalu, cakram padat atau compact disc (CD) berada di puncak kejayaan. Di Inggris, penjualan CD mencapai titik tertinggi pada 2001 dengan 225,9 juta keping terjual senilai £2,2 miliar. Praktis, terjangkau, dan berkualitas, CD menjadi format yang dipercaya pendengar yang menginginkan kesederhanaan sekaligus keandalan.

Namun, zaman berubah. Streaming mengambil alih. Kini, penjualan CD turun drastis hingga sekitar 10,5 juta keping per tahun. Anehnya, di tengah dominasi digital, minat terhadap CD justru kembali tumbuh.

Fenomena ini tidak lepas dari apa yang disebut “kelelahan streaming”. Akses ke jutaan lagu dalam sekali sentuh ternyata tidak selalu memberikan kepuasan emosional. Banyak pendengar mulai merindukan sensasi memiliki musik secara fisik. Tren ini terlihat dari meningkatnya penjualan CD baru dan bekas, serta tetap kuatnya pasar piringan hitam.

Industri audio pun merespons. Produsen perangkat audio kembali menghadirkan pemutar CD modern dengan harga terjangkau hingga menengah. Banyak model baru menggabungkan pemutar CD, radio, dan streaming dalam satu perangkat ringkas, sehingga format fisik kembali relevan di ruang keluarga.

Di ranah audio hi-fi, pemutar CD tidak pernah benar-benar hilang. Merek-merek lama seperti Marantz, Cyrus, dan Cambridge terus memproduksi perangkat berkualitas. Sementara itu, solusi modern hadir bagi konsumen yang tidak ingin membangun sistem hi-fi kompleks. Perangkat “hampir all-in-one” yang cukup dipasangkan dengan speaker rak kini menjadi pilihan praktis.

Tak hanya itu, perangkat audio satu kotak dengan speaker internal juga semakin diminati. Sistem ini menggabungkan CD, radio DAB/FM, Bluetooth, Wi-Fi, dan aplikasi streaming dalam satu unit. Bahkan, kombinasi pemutar CD dan turntable mulai diperkenalkan, menyatukan nostalgia dan teknologi dalam satu perangkat.

Kebangkitan CD bukan sekadar soal teknologi, melainkan juga soal pengalaman. Kepemilikan fisik memberi rasa keterhubungan yang berbeda dengan musik. Di era digital yang serba instan, CD kembali hadir sebagai simbol kontrol, kenangan, dan kedekatan dengan musik. (*)