China
Jumat, 24 November 2023 11:12 WIB
Penulis:Pratiwi

Data dari World Clock Emission yang diambil pada 14 November 2023 menyatakan China menjadi negara penyumbang emisi terbesar di dunia. China menyumbang emisi Gas Rumah Kaca (GRK) pada emisi karbon ekuivalen (CO2eq) sebesar 14,8 giga ton (GT). 1 GT sendiri sama dengan 1 miliar ton yang artinya sektor ini menyumbang 14,8 miliar ton emisi karbon dengan emisi per detiknya diperkirakan sebesar 467,7 ton/detiknya.
Sumbangan China terhadap emisi karbon jauh lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat yang menjadi penyumbang emisi karbon kedua terbesar. Amerika Serikat sendiri tercatat menyumbang emisi GRK pada CO2eq sebesar 6,2 GT dengan emisi per detiknya diperkirakan sebesar 197,2 ton/detik.
Sektor utama di China yang menjadi penyumbang emisi karbon terbesar adalah sektor energi. World Clock Emission mencatatkan sektor ini menyumbang emisi karbon sebesar 6,8 GT. Sub sektor energi yang menjadi penyumbang emisi tertinggi adalah pembangkit listrik tenaga batu bara dengan emisi karbon sebesar 4,8 GT atau diperkirakan 151,5 ton/detik.
Kemudian subsektor kedua sebagai penyumbang terbesar adalah penggunaan/pembakaran energi lainnya dengan emisi karbon sebesar 849,9 Metrik Ton (MT) atau diperkirakan 26,9 ton/detik. 1 MT sama dengan 1 Ton.
Selanjutnya adalah sub sektor produksi bahan bakar fosil dengan sumbangan emisi karbon sebesar 584,6 MT atau diperkirakan 18,5 ton/detik.
Sektor kedua yang menjadi penyumbang emisi karbon di China adalah sektor Industri dengan sumbangan emisi karbon sebesar 5,2 GT atau diperkirakan 164,8 ton/detik. Sub sektor dengan penyumbang emisi karbon terbesar adalah metal dengan menyumbang emisi karbon sebesar 1,7 GT atau diperkirakan 54,6 ton/detik.
Sub sektor selanjutnya adalah industri lainnya yang menyumbang 1,3 GT atau sekitar 41,1 ton/detiknya. Kemudian sub sektor kimia menjadi terbesar ketiga sebagai sub sektor penyumbang emisi karbon di sektor industri dengan menyumbang emisi karbon 1 GT atau sekitar 33 ton/detik.
Sektor ketiga terbesar sebagai penyumbang emisi karbon di China adalah sektor transportasi. Sektor ini menyumbang emisi karbon sebesar 1,2 GT atau diperkirakan sekitar 38,2 ton/detik. Sub sektor yang menjadi penyumbang terbanyak adalah mobil yaitu sebesar 448,1 MT atau sekitar 14,2 ton/detik. Kemudian sub sektor bus dan truk dengan sumbangan emisi karbon sebesar 437,1 MT atau sekitar 13,9 ton/detik. Selanjutnya sub sektor kereta dengan menyumbang emisi karbon sebesar 109,8 MT atau sekitar 3,5 ton/detik.
Usaha China Dinilai Kurang
Meskipun menjadi penyumbang emisi karbon terbesar di dunia, usaha China untuk beralih menjadi lebih hijau dinilai kurang. The Boston University Global Development Policy Center (GDP Center) mengidentifikasi selama dua tahun berturut-turut pada tahun 2022, bank-bank pembangunan China tidak menyalurkan pinjaman ke sektor energi baru seperti dilansir Energy Portal.
Walaupun Presiden Xi Jinping telah mengumumkan pada tahun 2021 mengenai niatnya menghentikan dukungan keuangan terhadap proyek batubara di luar negeri, bank-bank pembangunan China malah tidak menunjukkan komitmen untuk memberikan pinjaman baru di sektor energi selama tahun 2021 dan 2022.
“Laporan ini menyoroti bahwa meskipun Tiongkok telah mengurangi dukungannya terhadap inisiatif batubara luar negeri, peningkatan dukungan yang dijanjikan untuk proyek energi ramah lingkungan dan rendah karbon masih belum terwujud,” ujas Cecilia Springer, penulis utama laporan The Boston University GDP Center.
Energy Portal melaporkan antara tahun 2000 dan 2022, bank pembangunan utama China, China Development Bank (CDB) dan Export-Import Bank of China (CHEXIM) memberikan 331 pinjaman dengan nilai total US$225 miliar atau sekitar Rp3.536,16 triliun (kurs Rp15.716) untuk proyek energi. Sebagian besar pendanaan dialokasikan untuk kegiatan eksplorasi dan ekstraksi dengan sekitar tiga perempat pinjaman dialokasikan untuk proyek batu bara, minyak, dan gas.
Meskipun pembiayaan dari kedua bank ini telah menurun sejak tahun 2016, jumlah pinjaman energi yang disalurkan masih melebihi jumlah pinjaman yang diberikan oleh lembaga pemberi pinjaman internasional lainnya, termasuk Bank Dunia.
Laporan GDP Center menekankan pembentukan Kemitraan Investasi dan Keuangan Hijau atau Green Investment and Finance Partnership(GIFP) pada KTT Belt and Road beberapa waktu lalu sebagai langkah positif. GIFP sendiri memiliki tujuan mempromosikan inisiatif energi hijau dengan menawarkan pendanaan tahunan sekitar US$100 miliar (Rp1.571,63 triliun) untuk transisi energi di negara-negara yang tergabung dalam Belt and Road.
Melansir The Green Finance & Development Center, negara-negara yang telah tergabung dalam Belt and Road 44 negara berada di Afrika Sub-Sahara, 35 negara Eropa dan Asia Tengah, 25 negara Asia Timur dan Pasifik, 21 negara Amerika Latin dan Karibia, 18 negara Timur Tengah dan Afrika Utara, dan 6 negara Asia Tenggara termasuk Indonesia. (*)
Bagikan