Rabu, 14 Oktober 2026 23:25 WIB
Penulis:Pratiwi

PARIS (sijori.id) – Pabrikan otomotif asal Prancis, Citroen, menghidupkan kembali nama legendaris 2CV untuk mendongkrak penjualan mobil listrik di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat.
Mobil konsep terbaru tersebut diperkenalkan dalam Paris Motor Show. Mengusung desain retro yang terinspirasi dari Citroen 2CV klasik, mobil listrik mungil ini dirancang untuk kebutuhan mobilitas perkotaan.
Citroen belum siap memasarkan model tersebut dalam waktu dekat. Namun, perusahaan menargetkan versi produksi mobil listrik 2CV dapat masuk ke ruang pamer atau dealer pada 2028.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi Citroen dan sejumlah produsen otomotif Eropa untuk memanfaatkan warisan desain mereka dalam memasarkan kendaraan modern. Strategi tersebut dinilai semakin penting di tengah persaingan dengan produsen mobil listrik asal China.
Citroen 2CV, Mobil Rakyat yang Legendaris
CEO Citroen Xavier Chardon menyebut mobil konsep terbaru tersebut sebagai jawaban modern terhadap kebutuhan mobilitas masa depan.
“Respons yang modern, cerdik, dan menyegarkan terhadap tantangan mobilitas masa depan,” ujar Chardon.
Citroen 2CV pertama kali diperkenalkan pada 1948, ketika Eropa masih berupaya memulihkan diri setelah Perang Dunia II. Mobil tersebut dirancang sebagai kendaraan murah, tangguh, dan mudah digunakan oleh petani serta masyarakat pedesaan Prancis.
Karakteristiknya cukup unik. Mobil ini memiliki lengkungan roda tinggi dan suspensi empuk yang memungkinkannya melintasi jalan kasar hingga lahan pertanian.
Salah satu kisah yang melekat pada 2CV adalah kemampuannya melintasi ladang yang baru dibajak tanpa memecahkan baki berisi telur bebek. Kisah tersebut menggambarkan suspensinya yang dirancang untuk menghadapi medan tidak rata.
Atapnya yang tinggi juga memungkinkan pengemudi mengenakan topi saat berkendara. Selain mudah dikemudikan, mobil ini dirancang agar mudah diperbaiki.
Popularitasnya membuat Citroen 2CV bertahan dalam produksi selama lebih dari 40 tahun. Seiring waktu, mobil yang awalnya ditujukan sebagai kendaraan praktis masyarakat pedesaan itu berkembang menjadi ikon budaya populer dan digemari kalangan hippie serta kelompok kontra-budaya.
Desain Retro dengan Teknologi Mobil Listrik
Citroen berencana memanfaatkan daya tarik historis 2CV untuk menghadirkan mobil listrik perkotaan dengan harga yang relatif terjangkau.
Mobil konsep tersebut diperkirakan akan dibanderol sekitar 13.000 pound sterling atau setara Rp280 juta, dengan asumsi kurs Rp21.500 per pound sterling. Harga itu masih berupa perkiraan dan belum tentu menjadi harga resmi ketika versi produksinya diluncurkan.
Dari sisi desain, mobil konsep 2CV terbaru mempertahankan sejumlah ciri khas pendahulunya. Di antaranya lengkungan roda yang tinggi dan melebar, atap melengkung, serta lampu depan yang menyerupai mata.
Nama 2CV sendiri berasal dari istilah Prancis deux chevaux, yang secara harfiah berarti dua kuda dan berkaitan dengan klasifikasi pajak kendaraan di Prancis pada masa itu.
Meski membawa nuansa klasik, desain mobil konsep tersebut masih dapat berubah selama proses pengembangan menuju produksi massal.
Tren Mobil Listrik Bernuansa Klasik
Citroen bukan satu-satunya produsen yang memanfaatkan nostalgia untuk memasarkan kendaraan modern.
Volkswagen pernah menghidupkan kembali Beetle pada akhir 1990-an. BMW mempertahankan karakter desain klasik Mini, sedangkan Fiat memasarkan Fiat 500 dengan gaya retro selama sekitar dua dekade.
Belakangan, tren tersebut semakin menonjol seiring upaya produsen otomotif menarik minat konsumen terhadap mobil listrik.
Renault, misalnya, meluncurkan Renault 5 E-Tech dengan desain yang terinspirasi dari Renault 5 generasi awal. Perusahaan tersebut juga menghidupkan kembali nama Renault 4 dan Twingo.
Sementara itu, Volkswagen menghadirkan ID. Buzz, minivan listrik yang mengambil inspirasi dari Transporter T2 klasik. Ford juga tengah mengembangkan mobil listrik baru yang diperkirakan akan menggunakan nama Fiesta.
Rachel Burgess, editor senior majalah Autocar, menilai strategi desain retro dapat menjadi pembeda bagi produsen otomotif lama di tengah munculnya banyak merek baru.
Menurut dia, konsumen yang lebih tua dapat memiliki ikatan emosional dengan mobil klasik, sedangkan konsumen muda bisa tertarik pada tampilan retro yang unik.
Warisan Desain Jadi Modal Menghadapi Mobil China
Persaingan dengan produsen kendaraan listrik asal China menjadi salah satu tantangan utama bagi industri otomotif Eropa. Produsen China semakin agresif menawarkan mobil listrik dengan beragam pilihan desain dan teknologi.
David Leggett, editor otomotif di GlobalData, menilai produsen besar Eropa menghadapi tekanan serius dari kompetitor China.
Dalam situasi tersebut, warisan desain dan sejarah merek dapat menjadi keunggulan bagi produsen Eropa. Peneliti otomotif sekaligus penulis, Paul Nieuwenhuis, menilai produsen China dapat menciptakan tren desain baru, tetapi tidak memiliki sejarah panjang yang sama dengan merek-merek otomotif Eropa.
Meski demikian, nostalgia saja tidak cukup untuk menjamin kesuksesan Citroen 2CV generasi baru.
Menurut Leggett, mobil tersebut perlu mempertahankan karakter pendahulunya, terutama dalam hal harga terjangkau, kesederhanaan desain, dan ciri visual. Pada saat yang sama, kendaraan itu harus mampu memenuhi ekspektasi konsumen terhadap fungsi, fitur, dan teknologi mobil listrik modern.
Dengan target peluncuran pada 2028, Citroen masih memiliki waktu untuk mematangkan konsep 2CV terbaru. Tantangannya adalah menggabungkan daya tarik mobil legendaris dengan kebutuhan kendaraan listrik perkotaan masa kini. (*)
Bagikan