Denny JA Bawa Puisi Esai ke Taman Kota

Selasa, 03 November 2026 17:04 WIB

Penulis:sapadaku

rumah-indonesia.jpg

JAKARTA (sijori.id) – Puisi tak selalu harus dinikmati dalam ruang sunyi. Di taman kota, karya sastra bisa menjadi jembatan untuk mempertemukan masyarakat dengan berbagai cerita tentang kehidupan, kemanusiaan, dan persoalan sosial.

Semangat itulah yang dibawa Denny JA Foundation melalui kegiatan Menikmati Puisi Esai di Taman Kota di Paviliun Merah, Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, Sabtu, 31 Oktober 2026.

Acara ini menghadirkan Denny JA, penggagas puisi esai, serta Mahwi Airtawar yang mengulas antologi Rumah itu Bernama Indonesia karya Komunitas Arisan Puisi Esai.

Berlangsung di ruang terbuka, kegiatan tersebut memadukan pembacaan puisi, pertunjukan teaterikal, ulasan buku, dan peluncuran antologi. Sastra pun hadir lebih dekat dengan masyarakat, tidak sekadar menjadi bacaan personal, tetapi juga ruang untuk membicarakan realitas kehidupan.

Puisi esai menjadi salah satu medium yang menghubungkan kekuatan bahasa dengan persoalan sosial. Genre ini tidak hanya menawarkan keindahan kata-kata, tetapi juga menghadirkan fakta, luka sosial, pergulatan manusia, dan pengalaman kelompok masyarakat yang kerap luput dari perhatian.

Kehadiran Denny JA dalam kegiatan tersebut memberikan konteks perjalanan puisi esai sebagai genre yang berupaya mendekatkan sastra dengan kehidupan nyata.

Sementara itu, Mahwi Airtawar mengulas antologi Rumah itu Bernama Indonesia. Pembahasan tersebut menyoroti kekuatan tema dan cara para penulis mengolah peristiwa sosial menjadi karya sastra yang menggugah kesadaran kemanusiaan.

Indonesia dalam Cerita dan Luka Manusia

Antologi Rumah itu Bernama Indonesia menghimpun karya para penulis yang tergabung dalam Komunitas Arisan Puisi Esai.

Buku ini mengajak pembaca menyusuri berbagai potret kehidupan. Ada hutan yang kehilangan pepohonan, sekolah yang sulit dijangkau, dapur yang menyimpan sakit dan penantian, hingga laut dan wilayah perbatasan yang menjadi tempat manusia mempertahankan harga diri.

Indonesia dalam antologi ini bukan sekadar nama geografis atau simbol yang diucapkan dalam upacara. Negeri ini digambarkan sebagai rumah bersama yang semestinya menyediakan ruang bagi setiap warga, pengalaman, dan suara.

Direktur Denny JA Foundation, Nita Ch. Lusaid, mengatakan Indonesia seharusnya menjadi rumah bagi setiap cerita, terutama pengalaman masyarakat yang selama ini berada di pinggiran.

“Bagi kami, Indonesia bukan hanya nama besar yang diucapkan pada hari-hari seremonial. Indonesia adalah rumah yang harus menyediakan tempat bagi setiap cerita, terutama cerita mereka yang selama ini berada di pinggir. Melalui puisi esai, pengalaman sosial tidak berhenti sebagai angka atau kabar, tetapi hadir sebagai suara manusia yang dapat kita dengar dan rasakan,” ujar Nita.

Menurutnya, puisi esai memungkinkan pengalaman sosial hadir melalui suara manusia. Dengan begitu, berbagai persoalan tidak hanya dipahami sebagai data atau berita, tetapi juga sebagai pengalaman yang dapat dirasakan pembaca.

Membawa Sastra Keluar dari Ruang Sunyi

Pemilihan taman kota sebagai lokasi kegiatan bukan sekadar soal tempat. Ruang terbuka menjadi simbol upaya membawa sastra keluar dari lingkungan yang terbatas dan mendekatkannya kepada masyarakat.

Di tengah suasana taman, puisi menemukan ruang untuk mempertemukan manusia dengan manusia lainnya. Sastra menjadi sarana membangun empati sekaligus menjaga ingatan terhadap persoalan sosial yang belum terselesaikan.

Peluncuran Rumah itu Bernama Indonesia juga menjadi penanda perjalanan baru karya-karya Komunitas Arisan Puisi Esai.

Antologi tersebut mengajak pembaca melihat Indonesia dari jarak yang lebih dekat, melalui kehidupan orang-orang biasa yang menjaga negeri dengan kerja, luka, harapan, dan keteguhan.

Melalui kegiatan Menikmati Puisi Esai di Taman Kota, Denny JA Foundation menegaskan komitmennya menjadikan sastra sebagai ruang dialog yang terbuka dan relevan dengan kehidupan masyarakat.

Sebab, sebuah bangsa tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan angka-angka. Bangsa juga tumbuh dari kesediaan untuk mendengarkan cerita, memahami pengalaman, dan merawat kemanusiaan setiap anak negeri. (*)