Drama Korea Teach You a Lesson Puncaki Netflix Global

Rabu, 08 Juli 2026 15:51 WIB

Penulis:Pratiwi

lesson.jpg
tangkapan layar

(sijori.id) - Drama Korea Teach You a Lesson menjadi salah satu tayangan nonbahasa Inggris paling sukses di Netflix tahun ini. Serial tersebut bertahan selama empat pekan berturut-turut di puncak Global Top 10 Non-English Series Netflix dan mencatat 7,3 juta penayangan pada periode 22–28 Juni.

Popularitasnya tidak hanya terjadi di Korea Selatan, tetapi juga menjangkau sedikitnya 91 negara, dengan masuk dalam daftar 10 besar di berbagai wilayah seperti Argentina, Jerman, Jepang, Malaysia, hingga Australia. Capaian ini menunjukkan bahwa isu yang diangkat serial tersebut mampu diterima oleh penonton lintas budaya.

 

Mengangkat Isu Perundungan dan Krisis Sistem Pendidikan

Disutradarai Hong Jong-chan, Teach You a Lesson berfokus pada persoalan perundungan (bullying) di lingkungan sekolah serta lemahnya sistem yang seharusnya melindungi siswa.

Cerita mengikuti sebuah organisasi fiktif bernama Educational Rights Protection Bureau (ERPB), tim khusus yang turun tangan ketika jalur resmi dinilai gagal menyelesaikan kasus kekerasan dan perundungan di sekolah.

Menurut Hong, keberadaan ERPB bukan dimaksudkan sebagai solusi nyata, melainkan sebuah konsep fiksi yang lahir dari kenyataan sosial yang dinilai semakin memprihatinkan.

"Dalam banyak hal, fantasi dimulai ketika kenyataan menjadi terlalu sulit untuk diterima," ujar Hong.

Ia menjelaskan bahwa serial tersebut dibangun dengan emosi yang realistis, sementara penyelesaian konfliknya dikemas layaknya tontonan aksi agar mampu menghadirkan rasa lega (catharsis) bagi penonton.

 

Bukan Sekadar Pahlawan Tunggal

Alih-alih menghadirkan satu tokoh penyelamat, Hong membangun cerita melalui kekuatan para karakter utama.

Aktor Kim Moo-yul memerankan Na Hwa-jin, seorang inspektur ERPB dengan latar belakang pasukan khusus. Sementara Lee Sung-min berperan sebagai Menteri Pendidikan Choi Gang-seok, pendiri ERPB yang terus mempertahankan keberadaan lembaga tersebut di tengah tekanan publik.

Aktris Jin Ki-joo memerankan Im Han-rim, inspektur muda yang tegas di lapangan, sedangkan Pyo Ji-hoon berperan sebagai Bong Geun-dae, staf administrasi lulusan KAIST yang perlahan memahami kompleksitas persoalan dunia pendidikan.

Hong menegaskan bahwa setiap karakter memiliki cara berbeda dalam mendampingi para korban, sehingga serial ini tidak hanya bergantung pada satu sosok protagonis.

 

Na Hwa-jin Digambarkan Sebagai Korban yang Membantu Korban

Kim Moo-yul menilai karakter Na Hwa-jin tidak bisa dikategorikan sebagai pahlawan maupun antihero.

Menurutnya, tokoh tersebut lebih tepat dipandang sebagai seseorang yang digerakkan oleh rasa tanggung jawab untuk membantu para korban menemukan jalan keluar dari trauma mereka.

Hong juga mengungkapkan bahwa Na Hwa-jin memiliki luka masa lalu sehingga memahami penderitaan para korban perundungan.

"Dia sendiri adalah korban yang memilih membantu korban lainnya. Dari situlah kekuatan karakter itu berasal," kata Hong.

Untuk memerankan karakter tersebut, Kim menjalani latihan fisik khusus agar gerakan Na Hwa-jin terlihat efisien dan alami sebagai mantan anggota pasukan khusus. Namun, ia mengaku justru lebih banyak mempersiapkan adegan emosional dibandingkan adegan aksi.

 

Isu Pendidikan Korea Ternyata Relevan Secara Global

Salah satu hal yang paling mengejutkan Hong adalah respons dari guru dan orang tua di berbagai negara.

Meski berangkat dari sistem pendidikan Korea Selatan, banyak penonton mengaku menemukan kemiripan dengan kondisi sekolah di negara mereka masing-masing.

Menurut Hong, keberhasilan serial ini membuktikan bahwa cerita yang sangat spesifik terhadap budaya lokal justru dapat diterima secara universal.

"Semakin jujur kami menggambarkan realitas masyarakat Korea, semakin universal cerita tersebut," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa autentisitas jauh lebih penting dibandingkan upaya membuat cerita menjadi terlalu umum demi menarik pasar internasional.

 

Melanjutkan Kritik Sosial Setelah Juvenile Justice

Teach You a Lesson menjadi proyek kedua Hong Jong-chan yang mengangkat persoalan lembaga yang gagal melindungi anak-anak, setelah sebelumnya menyutradarai Juvenile Justice pada 2022.

Meski sama-sama mengkritisi sistem, Hong menjelaskan bahwa tema utama kedua serial tersebut sebenarnya adalah kegagalan komunikasi antara individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Ia berharap kesuksesan Teach You a Lesson tidak hanya diukur dari jumlah penonton, tetapi juga mampu memicu diskusi yang lebih luas mengenai perlindungan anak dan tanggung jawab orang dewasa terhadap lingkungan sekolah.

Hong mengaku terbuka apabila Netflix melanjutkan serial ini ke musim kedua. Baginya, masih banyak kisah tentang dunia pendidikan yang layak diangkat ke layar.

"Saya selalu memulai setiap proyek dengan pertanyaan yang sama: cerita apa yang paling perlu didengar orang saat ini? Apa pun genrenya, pada akhirnya setiap cerita harus berbicara tentang manusia," tutupnya. (*)