China
Kamis, 12 Februari 2026 16:11 WIB
Penulis:Pratiwi

CHINA (sijori.id) - Gelombang kepulangan lulusan China dari luar negeri mencapai rekor baru. Tren ini dipicu oleh ekspansi industri teknologi tinggi, kebijakan pemerintah yang mendukung, pengetatan visa di negara Barat, serta persaingan pasar kerja global yang semakin ketat.
Laporan 2025 China Returnee Employment Survey Report yang dirilis platform rekrutmen Zhaopin mencatat jumlah pencari kerja lulusan luar negeri—terutama lulusan baru—naik 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang tertinggi dalam delapan tahun terakhir. Meski tidak mengungkap jumlah absolut, Zhaopin menyebut proporsinya lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2018, saat pelacakan dimulai.
Data tersebut menunjukkan penguatan tren “pulang kampung” talenta global. Selain 2023 yang terdampak pandemi Covid-19, jumlah lulusan luar negeri yang kembali ke China meningkat hampir secara konsisten dalam beberapa tahun terakhir.
Sebagian besar lulusan kembali berasal dari negara-negara Barat. Inggris menyumbang sekitar 34 persen, Australia 22 persen, dan Amerika Serikat 8 persen. Arus balik ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan talenta global terhadap peluang karier di dalam negeri.
Kementerian Pendidikan China mencatat sekitar 495 ribu lulusan luar negeri kembali ke China pada 2024, naik lebih dari 19 persen secara tahunan. Sejak kebijakan reformasi dan keterbukaan diluncurkan pada 1978 hingga 2024, sekitar 8,88 juta warga China menempuh studi di luar negeri. Dari 7,43 juta yang menyelesaikan studi, 6,44 juta memilih kembali ke tanah air. Sejak 2012, sekitar 5,63 juta lulusan telah kembali, atau 87 persen dari total kepulangan sejak akhir 1970-an.
Sektor internet, pendidikan, dan konsultasi menjadi tujuan utama pelamar kerja. Namun, pertumbuhan tertinggi tercatat di bidang teknologi informasi dan manufaktur maju, terutama material baru dan optoelektronika. Robotika, kecerdasan buatan, perangkat pintar, dan kedirgantaraan juga menunjukkan peningkatan signifikan.
Zhaopin menilai gelombang kepulangan ini didorong oleh kebijakan pemerintah yang pro-industri masa depan serta meningkatnya investasi pada sektor teknologi strategis. Perkembangan ekonomi domestik yang relatif stabil turut memperkuat daya tarik China bagi talenta global.
Peneliti pendidikan Xiong Bingqi menilai fenomena ini sebagai tren jangka panjang. Ketika studi ke luar negeri tidak lagi menjadi privilese elite, semakin banyak mahasiswa yang menghadapi keterbatasan peluang kerja di luar negeri. Kondisi tersebut mendorong mereka kembali ke China, seiring meluasnya peluang karier di dalam negeri. (*)
Bagikan