Hujan Lebat Turunkan Suhu Singapura ke 20,1 Derajat Celsius

Sabtu, 13 Juni 2026 18:47 WIB

Penulis:Pratiwi

hujan.jpg
ilustrasi | sijori.id

SINGAPURA (sijori.id) – Hujan deras yang mengguyur Singapura pada 12 Juni 2026 menyebabkan suhu udara turun ke titik terendah sepanjang tahun ini. Data resmi menunjukkan temperatur minimum mencapai 20,1 derajat Celsius, sekaligus mengakhiri periode cuaca panas yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir.

Berdasarkan data dari Meteorological Service Singapore (MSS), suhu terendah tersebut tercatat di Stasiun Cuaca Newton pada pukul 12.52 waktu setempat.

Catatan tersebut melampaui rekor sebelumnya pada 2026, yakni 20,3 derajat Celsius yang juga tercatat di Newton pada 19 Februari lalu.

Hujan Deras Guyur Sejumlah Wilayah

Sejak pagi hingga menjelang siang, hujan lebat mengguyur berbagai kawasan di Singapura. Kondisi ini mendorong badan air nasional Singapura, PUB, mengeluarkan peringatan risiko banjir bandang untuk wilayah Balestier dan Paya Lebar.

Badan Lingkungan Nasional Singapura (NEA) sebelumnya memperkirakan hujan deras akan melanda wilayah selatan, timur, barat, dan pusat Singapura mulai pukul 11.00 hingga sekitar pukul 12.30.

Curah hujan tinggi tersebut memicu berbagai unggahan di media sosial. Warga membagikan foto dan video yang memperlihatkan langit gelap serta hujan deras di sejumlah kawasan, termasuk Marina Bay dan area permukiman.

Kontras dengan Suhu Panas Awal Juni

Penurunan suhu yang drastis ini terjadi hanya beberapa hari setelah Singapura mengalami cuaca panas ekstrem.

Data MSS menunjukkan suhu tertinggi yang tercatat sepanjang Juni 2026 sejauh ini mencapai 35,1 derajat Celsius di Pulau Ubin pada 6 Juni pukul 14.49 waktu setempat.

Perbedaan suhu yang cukup besar dalam waktu singkat menunjukkan tingginya variabilitas cuaca yang sedang dialami negara kota tersebut.

Pengaruh El Nino dan Indian Ocean Dipole

Sebelumnya, pada akhir Mei 2026, Meteorological Service Singapore memperingatkan bahwa periode Juni hingga Oktober berpotensi mengalami kondisi lebih panas dan lebih kering akibat pengaruh fenomena iklim El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD).

El Nino merupakan fenomena alam yang terjadi akibat pemanasan tidak normal suhu permukaan laut di wilayah timur Samudra Pasifik tropis. Fenomena ini biasanya memengaruhi pola curah hujan dan suhu di berbagai kawasan dunia, termasuk Asia Tenggara.

Di Singapura, El Nino sering dikaitkan dengan meningkatnya kemungkinan cuaca kering selama musim monsun barat daya yang berlangsung antara Juni hingga September.

Selain mengurangi curah hujan, El Nino juga cenderung menyebabkan peningkatan suhu udara.

Cuaca Kering Diperkirakan Kembali Terjadi

Selain El Nino, para ahli meteorologi juga memantau perkembangan Indian Ocean Dipole positif yang diperkirakan mulai terbentuk pada Juli atau Agustus 2026.

Fenomena ini terjadi ketika suhu permukaan laut di bagian timur Samudra Hindia menjadi lebih dingin dibandingkan wilayah baratnya. Kondisi tersebut mengurangi pembentukan awan dan curah hujan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Singapura.

Akibatnya, cuaca yang lebih panas dan kering diperkirakan kembali mendominasi dalam beberapa bulan mendatang.

Meski hujan deras pada 12 Juni memberikan jeda sementara dari suhu panas yang dipicu El Nino, para meteorolog memperkirakan kondisi hangat dan relatif kering masih akan menjadi karakter utama cuaca Singapura hingga memasuki akhir musim kemarau tahun ini. (*)