Ilmuwan Australia Ciptakan Material Bangunan Tanpa Semen

Sabtu, 22 November 2025 11:54 WIB

Penulis:Pratiwi

karton.jpg
Dr. Jiaming Ma, sedang memegang material rammed earth yang dibungkus karton. | RMIT University.

MELBOURNE (sijori.id) – Inovasi besar di sektor konstruksi lahir dari laboratorium RMIT University, Australia. Tim peneliti berhasil mengembangkan material bangunan baru yang sepenuhnya terbuat dari tanah, air, dan karton daur ulang, tanpa campuran semen sama sekali.

Material ini dirancang khusus untuk bangunan bertingkat rendah dan dinilai memiliki kekuatan struktur memadai, mudah diakses, serta jauh lebih ramah lingkungan dibanding beton konvensional. Terobosan ini menjadi angin segar di tengah upaya global menekan emisi karbon dari industri konstruksi.

Selama ini, semen sebagai bahan utama beton menyumbang hampir 8 persen emisi karbon dioksida dunia setiap tahun. Berbagai alternatif telah dikembangkan, namun belum mampu menyeimbangkan aspek kekuatan, biaya, dan keberlanjutan lingkungan seperti temuan terbaru ini.

Material anyar tersebut diberi nama cardboard-confined rammed earth (CCRE). Komposisinya terdiri dari tanah yang dipadatkan lalu dibungkus menggunakan tabung karton bekas. Hasilnya, tercipta sistem dinding yang kokoh dengan jejak karbon hanya seperempat dari beton dan biaya produksi kurang dari sepertiga beton biasa.

“Konstruksi rammed earth modern biasanya tetap menambahkan semen agar memenuhi standar kekuatan. Padahal, ketebalan dinding tanah padat sudah cukup kuat tanpa semen,” ujar peneliti utama, Dr Jiaming Ma, dikutip dari ScienceDaily.

Dengan sistem pembungkus karton silinder, tanah yang dipadatkan mampu menahan beban vertikal serta mencegah retak tanpa perlu bahan pengikat kimia. Selain itu, seluruh materialnya dapat didaur ulang dan digunakan kembali, sehingga limbah konstruksi bisa ditekan secara signifikan.

Potensi CCRE dinilai sangat besar, terutama untuk wilayah panas dan daerah terpencil yang minim infrastruktur. Di Australia saja, lebih dari 2,2 juta ton limbah kertas dan karton berakhir di tempat pembuangan setiap tahun. Jika sebagian dialihkan untuk bahan bangunan, dampak lingkungan dan ekonominya dinilai sangat positif.

Proses pembuatan CCRE juga tergolong sederhana. Campuran tanah dan air cukup dimasukkan ke dalam cetakan karton dan dipadatkan langsung di lokasi proyek, baik secara manual maupun menggunakan alat berdaya rendah. Hal ini mengurangi ketergantungan pada pabrik besar dan transportasi berat.

“Alih-alih mengangkut berton-ton bata, baja, dan beton, cukup membawa karton ringan karena hampir semua bahan tersedia langsung di lokasi,” ujar Profesor Emeritus Yi Min ‘Mike’ Xie.

Keunggulan lainnya, CCRE memiliki massa termal tinggi yang membantu menjaga suhu ruangan tetap stabil, mengurangi kebutuhan pendingin buatan, dan menekan konsumsi energi.

Ketebalan karton juga dapat disesuaikan untuk mengatur kekuatan struktur. Bahkan, tim peneliti telah menguji versi yang diperkuat serat karbon, dengan daya tahan mendekati beton modern berkinerja tinggi.

Saat ini, tim RMIT tengah mencari mitra industri untuk menguji penerapan CCRE di proyek nyata. Di tengah desakan global untuk membangun infrastruktur rendah emisi, inovasi ini dinilai bukan sekadar eksperimen, melainkan solusi praktis yang siap diterapkan.

Dengan bahan dasar yang melimpah, murah, dan ramah lingkungan, CCRE berpotensi menjadi titik balik baru dalam dunia konstruksi berkelanjutan. (*)