“Jalan Bata Kuning” Ditemukan di Dasar Samudra Pasifik

Jumat, 02 Januari 2026 11:25 WIB

Penulis:Pratiwi

Editor:Pratiwi

bata-kuning.jpg

(sijori.id) - Sebuah ekspedisi laut dalam di utara Kepulauan Hawaii menghadirkan kejutan tak terduga pada 2022. Para peneliti menemukan hamparan dasar danau purba yang telah mengering, berpola unik menyerupai “jalan bata kuning” di kedalaman samudra.

Temuan tak lazim itu terekam saat kapal riset Nautilus milik Ocean Exploration Trust menyurvei Punggungan Liliʻuokalani di kawasan Papahānaumokuākea Marine National Monument (PMNM). Wilayah konservasi laut ini termasuk yang terbesar di dunia—bahkan luasnya melampaui seluruh taman nasional di Amerika Serikat jika digabungkan. Ironisnya, baru sekitar 3 persen dasar laut PMNM yang pernah dijelajahi manusia.

Momen penemuan tersebut terekam dalam video ekspedisi yang diunggah ke YouTube pada April 2022. Percakapan para peneliti pun terdengar spontan dan penuh keheranan. “Ini seperti jalan menuju Atlantis,” ujar salah satu peneliti lewat radio. “Jalan bata kuning?” sahut yang lain. “Ini benar-benar aneh,” timpal suara lainnya.

Meski berada di bawah sekitar seribu meter air laut, permukaan yang ditemukan di puncak gunung laut Nootka tampak kering dan retak, seolah kerak yang dipanggang. Di satu bagian kecil, retakan batuan membentuk sudut-sudut tegas menyerupai susunan bata.

Peneliti mengidentifikasi formasi ini sebagai aliran batuan hialoklastit yang retak, yakni batuan vulkanik yang terbentuk dari letusan berenergi tinggi. Pola retakan 90 derajat diyakini muncul akibat tekanan panas dan pendinginan dari beberapa kali erupsi di masa lalu.

Penemuan ini sekaligus mengingatkan betapa sedikitnya dasar laut Bumi yang telah dilihat manusia. Studi tahun 2025 menyebutkan, selama 67 tahun pencatatan penyelaman laut dalam, manusia baru mengamati secara visual sekitar 0,0006 hingga 0,001 persen dari total dasar samudra dalam di planet ini.

Secara kasatmata, “jalan bata kuning” di Punggungan Liliʻuokalani memang mudah disangka sebagai jalur menuju dunia lain. Namun bagi ilmuwan, formasi ini justru menjadi penanda bahwa eksplorasi berada di jalur yang tepat—membuka peluang besar untuk memahami lebih jauh geologi tersembunyi dan kehidupan purba di kedalaman laut.

“Eksplorasi di wilayah yang belum pernah disurvei ini membantu kami melihat lebih dalam kehidupan di lereng berbatu gunung laut purba,” ujar tim Ocean Exploration Trust. (*)