Kanker Mengintai Usia Muda, Kasus di Singapura Terus Naik

Selasa, 27 Januari 2026 10:25 WIB

Penulis:Pratiwi

kanker.jpg

SINGAPURA (sijori.id) – Ini kisah dari jiran kita, Singapura. straitstimes.com mengangkatnya sebagai pengingat.  Sebuah kisah yang dialami oeh Joshua Lee.

Begini kisahnya. Nyeri perut yang dialami Joshua Lee semula dianggap sepele. Mahasiswa psikologi berusia 25 tahun itu mengira rasa sakit tersebut hanyalah akibat aktivitas panjat tebing yang kerap ia lakukan pada Januari 2024.

“Saya pikir cuma otot ketarik,” ujarnya kala itu.

Namun, kondisi tersebut memburuk beberapa bulan kemudian. Usai terjatuh cukup keras saat memanjat pada Juni 2024, nyeri yang ia rasakan semakin tak tertahankan. Hingga suatu pagi, Joshua nyaris pingsan karena sakit yang menusuk.

Ia kemudian memeriksakan diri ke Mount Alvernia Hospital, tak jauh dari kediamannya. Hasil MRI mengejutkan: terdapat massa di bagian perutnya. Serangkaian pemeriksaan lanjutan memastikan diagnosis yang mengubah hidupnya. Pada Juli 2024, Joshua dinyatakan mengidap kanker testis stadium tiga yang telah menyebar ke kelenjar getah bening di area perut.

Meski tak memiliki riwayat kanker dalam keluarga, Joshua mengaku telah menyiapkan mental menghadapi kemungkinan terburuk. Yang justru ia khawatirkan adalah reaksi orang-orang terdekat.

“Pacar saya yang paling berat menerimanya. Kami baru resmi bersama April, lalu Juli saya didiagnosis kanker,” katanya. Ia bahkan sempat berkata pada sang kekasih bahwa ia bisa pergi jika merasa tak sanggup menjalani hubungan tersebut.

 

Tren kanker usia muda meningkat

Kasus Joshua bukanlah kejadian tunggal. Data terbaru Singapore Cancer Registry menunjukkan lonjakan signifikan kanker pada kelompok usia muda. Sepanjang 2019–2023, tercatat 4.995 kasus kanker pada penduduk berusia di bawah 40 tahun. Angka ini melonjak 34 persen dibandingkan periode 2003–2007 yang mencatat 3.729 kasus.

Sebagai perbandingan, pada periode paling awal yang tercatat, yakni 1968–1972, jumlahnya hanya 1.710 kasus.

“Kanker memang masih lebih banyak terjadi pada usia lanjut, tetapi peningkatan tercepat justru terjadi pada kelompok usia muda,” ujar dr Gloria Chan, konsultan hematologi-onkologi National University Cancer Institute, Singapura. Peningkatan tertinggi, kata dia, terlihat pada pria usia 30–39 tahun serta perempuan usia 40–49 tahun.

Fenomena ini sejalan dengan tren global. Dr Eileen Poon dari National Cancer Centre Singapore (NCCS) menyebutkan, studi Global Burden of Disease mencatat peningkatan 79 persen kasus kanker usia dini di seluruh dunia sepanjang 1990–2019. Kelompok usia di bawah 50 tahun menjadi satu-satunya yang menunjukkan kenaikan insiden kanker secara konsisten sejak 1995.

 

Gaya hidup jadi sorotan

Para ahli menegaskan, lonjakan ini tak semata-mata disebabkan deteksi yang semakin baik. Justru, pada sebagian kanker usia muda, tingkat kematian relatif lebih tinggi karena penyakit kerap terdeteksi pada stadium lanjut.

Perubahan pola hidup dinilai berperan besar. Konsumsi makanan ultra-proses, obesitas, kurang aktivitas fisik, serta perubahan mikrobioma usus disebut sebagai faktor yang saling berkaitan. Kanker kolorektal menjadi salah satu contoh paling nyata, dengan insiden yang hampir dua kali lipat dalam beberapa dekade terakhir.

“Olahraga teratur dan menjaga berat badan ideal adalah faktor protektif terkuat,” ujar dr Chan. Ia juga menekankan pentingnya pola makan seimbang, memperbanyak sayur, buah, dan serat, serta membatasi daging merah, makanan olahan, rokok, dan alkohol. Skrining kanker, terutama kanker payudara dan serviks, juga dianjurkan bagi kelompok usia muda.

 

Bangkit setelah vonis

Bagi Joshua, pengobatan dimulai dengan orchidectomy atau pengangkatan testis kiri pada Juli 2024, disusul 28 sesi kemoterapi di NCCS. Efek samping seperti mual, rambut rontok, kenaikan berat badan, hingga “kabut otak” harus ia hadapi. Ia pun mengambil cuti kuliah selama enam bulan demi fokus pada pemulihan.

Kabar baik datang Oktober 2025. Kankernya dinyatakan remisi. Ia lulus dan menyelesaikan studinya pada Desember tahun yang sama. Kini, Joshua bekerja di Singapore Cancer Society sebagai eksekutif program layanan psikososial, mendampingi pasien kanker dan para penyintas muda.

Dukungan keluarga, teman, pasangan, komunitas penyintas, serta keyakinan imannya menjadi penopang utama. Ia berpesan, kaum muda yang didiagnosis kanker perlu memiliki pegangan agar tak larut dalam keputusasaan.

“Harus ada sesuatu atau seseorang yang kita cintai. Itu yang mengingatkan bahwa hidup bukan hanya untuk diri sendiri,” ujarnya. (*)