psikologi
Minggu, 28 Desember 2025 15:17 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) - Perhatikan trotoar kota besar saat jam sibuk. Dalam hitungan detik, orang-orang yang berjalan cepat akan langsung terlihat. Langkahnya pendek dan tegas, tubuh condong ke depan, tas menempel rapat, pandangan lurus ke arah tujuan. Mereka bukan sekadar bergerak lebih cepat. Seluruh bahasa tubuhnya seolah berkata: ayo, jangan buang waktu.
Berbagai studi perilaku menunjukkan, orang yang secara alami berjalan lebih cepat dari rata-rata cenderung memiliki sifat ekstrovert, disiplin tinggi, dan apa yang disebut psikolog sebagai time urgency—ketidaksukaan membuang waktu. Mereka lebih sering mengecek jam, gelisah di antrean panjang, dan selalu ingin bergerak efisien.
Peneliti di Inggris bahkan pernah mengukur kecepatan berjalan warga di jalanan kota, lalu mencocokkannya dengan tes kepribadian yang diisi terpisah di laboratorium. Hasilnya konsisten: ada pola kuat antara langkah kaki dan karakter.
Studi lain dari Princeton meminta pengamat menilai potongan video orang berjalan tanpa suara dan tanpa konteks. Hanya dari gerak tubuh, pengamat bisa menebak tingkat kepercayaan diri, kestabilan emosi, hingga seberapa terbuka seseorang—lebih akurat dari sekadar tebakan acak.
Riset jangka panjang di Amerika Serikat pada lansia juga menemukan hal menarik. Mereka yang tetap berjalan cepat bukan hanya lebih bertenaga, tetapi juga lebih optimistis, aktif secara sosial, dan merasa hidupnya punya tujuan.
Mengapa tempo berjalan begitu “bercerita”? Salah satunya karena kepribadian memengaruhi ritme tubuh. Orang yang terorganisasi dan bertanggung jawab cenderung menjadwalkan hari dengan rapat. Tekanan batin itu lalu tercermin dalam langkah yang efisien dan terus menjaga momentum. Jalan kaki menjadi cermin dari tempo batin.
Para peneliti menyarankan eksperimen sederhana: ukur waktu yang Anda butuhkan untuk berjalan 20 meter dengan kecepatan normal. Lalu ulangi di kondisi berbeda—setelah rapat menegangkan, di akhir pekan, atau saat berjalan dengan teman. Perbedaannya sering kali mencerminkan suasana hati dan tingkat stres.
Kecepatan berjalan juga bisa “diatur”, bukan dipaksakan. Fokus pada tujuan biasanya membuat langkah otomatis lebih cepat. Sebaliknya, saat perhatian diarahkan ke napas, langkah kaki, dan lingkungan sekitar, ritme tubuh melambat dengan sendirinya.
Ada pula efek sosial. Saat berjalan dengan orang lain, kita tanpa sadar menyesuaikan tempo. Bagi pejalan cepat, terus-menerus dipaksa melambat bisa terasa melelahkan. Sebaliknya, pejalan lambat yang dipaksa ngebut bisa tegang dan kehabisan napas—secara fisik maupun emosional.
“Kecepatan berjalan adalah salah satu sinyal perilaku yang paling sering diremehkan,” kata seorang peneliti perilaku Eropa. “Mudah diukur, konsisten, dan berkaitan dengan cara orang merencanakan hidup, merasakan waktu, bahkan menua.”
Intinya, kecepatan berjalan bukan soal benar atau salah. Bukan soal cepat lebih unggul atau lambat lebih bijak. Yang penting adalah kesesuaian dengan konteks. Langkah kaki yang selaras dengan situasi bisa mengurangi ketegangan dan membantu fokus.
Saat mulai peka, dunia pun terasa berbeda. Kita melihat orang tua yang tetap menolak melambat, remaja yang melayang sambil menatap ponsel, atau diri sendiri yang tiba-tiba melangkah lebih pelan tanpa sadar. Di sanalah, tubuh diam-diam memberi sinyal tentang arah hidup yang sedang dijalani. (*)
Bagikan