Minggu, 26 Juli 2026 22:44 WIB
Penulis:Pratiwi
Editor:Pratiwi

KATHMANDU (sijori.id) - Pemerintah Nepal tengah mempertimbangkan aturan baru yang akan memperketat persyaratan bagi pendaki yang ingin menaklukkan Gunung Everest, puncak tertinggi di dunia. Langkah ini bertujuan meningkatkan keselamatan pendaki, memperkuat perlindungan terhadap pekerja lokal, serta menjaga kelestarian lingkungan di kawasan Himalaya.
Usulan tersebut tertuang dalam pembahasan Integrated Tourism Bill yang saat ini sedang dikaji oleh komite parlemen Nepal. Sebanyak 58 anggota parlemen mengajukan 263 amendemen terhadap rancangan undang-undang tersebut sebelum nantinya dibahas dan diputuskan dalam sidang parlemen.
Pendaki Everest Harus Punya Pengalaman Gunung Tinggi
Mayoritas usulan mengarah pada persyaratan pengalaman mendaki gunung berketinggian tinggi sebelum seseorang memperoleh izin mendaki Everest.
Anggota parlemen Shishir Khadka dan Nitima Bhandari Karki mengusulkan agar izin pendakian Everest hanya diberikan kepada pendaki yang telah berhasil menaklukkan:
Sementara itu, anggota parlemen Ganesh Karki mengusulkan syarat yang sedikit berbeda, yakni pendaki wajib membuktikan telah mendaki satu gunung di atas 7.000 meter dan satu gunung di atas 8.000 meter.
Ada pula usulan dari Dhananjaya Regmi yang mewajibkan calon pendaki puncak di atas 8.000 meter terlebih dahulu berhasil mendaki dua gunung di atas 6.000 meter dan satu gunung di atas 7.000 meter.
Agen Pendakian Asing Akan Dibatasi
RUU tersebut juga mengusulkan agar seluruh kegiatan komersial pendakian, mulai dari promosi hingga penjualan paket ekspedisi, hanya boleh dilakukan oleh perusahaan trekking yang terdaftar dan memiliki izin resmi di Nepal.
Dengan aturan ini, perusahaan asing tidak lagi diperbolehkan menjual atau mengoperasikan ekspedisi pendakian secara langsung di Nepal.
Kuota Pendakian dan Lelang Izin
Pemerintah Nepal juga diusulkan menentukan kapasitas maksimal setiap gunung sebelum dibuka untuk pendakian.
Penentuan kuota akan mempertimbangkan sejumlah faktor, antara lain:
Selain itu, sebagian izin pendakian dalam kuota tertentu dapat dilelang kepada penawar tertinggi dengan harga dasar yang ditetapkan pemerintah.
Pendaki Wajib Ikut Pelatihan
Beberapa anggota parlemen mengusulkan agar setiap calon pendaki diwajibkan mengikuti pelatihan pendakian gunung serta menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum memperoleh izin.
Pendaki juga diwajibkan menyelesaikan seluruh proses aklimatisasi di Nepal sebelum melakukan pendakian menuju puncak.
Perlindungan bagi Pemandu dan Pekerja Lokal
Rancangan aturan baru turut memberikan perlindungan lebih besar kepada pekerja pendakian asal Nepal.
Seluruh personel yang terlibat dalam ekspedisi, termasuk:
diusulkan harus merupakan warga negara Nepal.
Selain itu, pekerja pendakian di atas base camp dilarang membawa beban lebih dari 20 kilogram.
Mereka juga berhak menghentikan pekerjaan apabila kondisi cuaca membahayakan atau kesehatan mereka terganggu tanpa dikenai pemotongan upah maupun sanksi lainnya.
Asuransi Diperketat
RUU tersebut juga memperkuat kewajiban asuransi bagi seluruh ekspedisi pendakian.
Setiap ekspedisi diwajibkan memiliki asuransi dari perusahaan asuransi berlisensi di Nepal dengan cakupan minimal:
Besaran nilai pertanggungan akan dievaluasi parlemen setiap tiga tahun.
Aturan Lingkungan Semakin Ketat
Untuk mengurangi pencemaran di Everest, Nepal juga mengusulkan sejumlah kebijakan lingkungan, antara lain:
Dalam amendemen tersebut, penggunaan drone maupun helikopter di atas ketinggian 6.000 meter akan dilarang tanpa izin pemerintah, kecuali untuk kepentingan keamanan nasional atau kebutuhan lain yang telah mendapat persetujuan resmi.
Platform Digital Pariwisata Ikut Diatur
RUU juga mengatur penyedia layanan pariwisata berbasis digital.
Platform pemesanan wisata yang beroperasi di Nepal wajib:
Penyedia jasa wisata Nepal yang telah memiliki izin juga dapat dilarang menggunakan platform digital yang belum terdaftar.
Melalui Integrated Tourism Bill, pemerintah Nepal berupaya menciptakan tata kelola pariwisata yang lebih aman, profesional, dan berkelanjutan, terutama untuk aktivitas pendakian di kawasan Himalaya yang setiap tahun menarik ribuan pendaki dari berbagai negara. (*)
Bagikan