Menilik 2 Motor Karya Anak Bangsa

Kamis, 07 Mei 2026 09:33 WIB

Penulis:Pratiwi

scoutro.jpg

Mahasiswa dari dua perguruan tinggi di Indonesia menghadirkan inovasi kendaraan roda dua tanpa bahan bakar bensin yang dirancang untuk kebutuhan berbeda, mulai dari patroli konservasi satwa liar hingga transportasi rendah emisi berbasis hidrogen.

Salah satu inovasi tersebut adalah SCOUTRO, motor listrik karya mahasiswa Desain Produk Institut Teknologi Bandung, Fadhil Ahmad Muzakki. Kendaraan ini dikembangkan sebagai proyek tugas akhir untuk membantu mobilitas polisi hutan di Taman Nasional Way Kambas, kawasan konservasi yang menjadi habitat gajah Sumatera.

Pengembangan SCOUTRO dimulai sejak awal 2025 melalui observasi langsung di lapangan. Fadhil menemukan bahwa kendaraan patroli konvensional dinilai terlalu berat dan bising untuk digunakan di kawasan hutan yang memiliki jalur ekstrem sekaligus membutuhkan operasi pengawasan senyap terhadap aktivitas perburuan liar.

“Inovasi ini lahir dari keinginan untuk menciptakan karya tugas akhir yang bukan sekadar formalitas, tetapi solusi nyata yang bermanfaat,” kata Fadhil.

Motor listrik tersebut dirancang dengan bobot di bawah 80 kilogram agar mudah dikendalikan di jalur tanah dan medan berlumpur. SCOUTRO menggunakan sistem dual hub motor 3 kilowatt pada roda depan dan belakang tanpa rantai, sehingga mengurangi risiko gangguan akibat ranting atau rumput saat melintasi kawasan hutan.

Tenaganya berasal dari dua baterai LiFePO4 72V 30Ah yang dapat dilepas-pasang. Dalam sekali pengisian daya, kendaraan ini diklaim mampu menempuh jarak hingga 65 kilometer. Sistem smart Battery Management System (BMS) yang terintegrasi juga memungkinkan kondisi baterai dipantau melalui ponsel.

Keunggulan lain terletak pada desain modularnya. SCOUTRO dilengkapi rak belakang dan samping yang dapat diubah menjadi meja kerja lapangan, kompresor udara bawaan, tas apung, hingga dudukan parang atau senapan untuk mendukung kebutuhan patroli konservasi.

Nama SCOUTRO sendiri terinspirasi dari karakter Scout Trooper dalam film Star Wars yang identik dengan operasi di kawasan hutan. Konsep tersebut diterjemahkan ke dalam kendaraan yang ringan, senyap, tetapi tetap memiliki traksi kuat di medan ekstrem.

Proses produksi motor ini berlangsung sekitar dua bulan. Rangkanya dibuat dari pipa baja, sedangkan panel bodi dicetak menggunakan teknologi 3D printing. Dalam pengerjaannya, Fadhil didampingi dosen pembimbing Dr. Bismo Jelantik Joyodiharjo bersama tim bengkel dan dukungan keluarganya.

Karya tersebut mendapat perhatian publik setelah videonya viral di media sosial dengan jutaan penonton. Meski belum diproduksi massal, Fadhil berencana membawa SCOUTRO ke kompetisi desain sambil menunggu proses sertifikasi Hak Desain Industri.

Selain SCOUTRO, inovasi kendaraan ramah lingkungan juga datang dari mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia melalui motor berbasis hidrogen bernama FCFV Jawara.

Motor hidrogen FCEV (Fuel Cell Electric Vehicle) Jawara karya mahasiswa UPI Bandung. (ANTARA/HO UPI Bandung)

Berbeda dengan kendaraan listrik berbasis baterai, FCFV Jawara menggunakan teknologi fuel cell hydrogen vehicle (FCFV), yakni sistem yang mengubah hidrogen menjadi energi listrik dengan emisi akhir berupa uap air.

Inovasi ini bermula dari ajang PLN ICE 2024 yang diikuti 30 perguruan tinggi. Tim UPI menjadi satu dari dua tim terbaik yang mendapat pendanaan, bersama ITS. "Awalnya kami mengusung konsep café racer berpadu desain sport. Sekarang motor ini menjadi satu dari dua unit hidrogen aktif di Indonesia," kata Muhammad Zidan, mahasiswa penanggung jawab sistem elektrika.

Zidan, menjelaskan, "Motor ini sepenuhnya digerakkan energi bersih. Hidrogen diubah menjadi listrik lewat fuel cell, lalu digunakan untuk menggerakkan motor."

Motor ini dilengkapi sensor kebocoran hidrogen, Internet of Things (IoT), GPS, dan sistem pengaman elektronik. Dalam pengembangannya, kendaraan tersebut diklaim mampu menempuh jarak hingga 428 kilometer dengan sekitar 2 liter hidrogen.

Secara teknis, teknologi fuel cell memiliki keunggulan dalam efisiensi energi dan emisi rendah. Namun, pengembangan kendaraan hidrogen di Indonesia masih menghadapi tantangan besar, terutama terkait infrastruktur pengisian serta biaya produksi hidrogen yang relatif tinggi dibanding kendaraan listrik berbasis baterai. (*)