Sabtu, 14 Februari 2026 18:57 WIB
Penulis:Pratiwi

BEIJING (sijori.id) – Industri kendaraan listrik memasuki babak baru. Baterai sodium-ion (Na-ion) pertama di dunia yang diproduksi massal untuk mobil penumpang resmi masuk jalur produksi dan bakal dipakai pada mobil listrik Changan Nevo A06 di pasar Tiongkok.
Teknologi ini dikembangkan oleh raksasa baterai kendaraan listrik asal Tiongkok, CATL. Keunggulan utama baterai anyar tersebut ada pada performanya di suhu ekstrem, setelah berhasil melewati uji musim dingin di Mongolia Dalam, wilayah dengan temperatur jauh di bawah titik beku.
Dalam pengujian itu, mobil tetap bisa melakukan pengisian daya normal pada suhu sekitar minus 30 derajat Celsius, bahkan masih mampu beroperasi hingga minus 50 derajat Celsius. Pada suhu minus 40 derajat Celsius, kapasitas baterai disebut masih bertahan lebih dari 90 persen—angka yang sulit dicapai baterai lithium iron phosphate (LFP) konvensional.
Jarak Tempuh Setara EV Entry Level
Baterai sodium-ion Naxtra milik CATL yang dipakai pada Nevo A06 memiliki kapasitas 45 kWh dengan jarak tempuh sekitar 400 kilometer dalam siklus uji CLTC Tiongkok. Secara angka, performa ini setara dengan mobil listrik entry level berbasis LFP, namun keunggulan utamanya ada pada ketahanan di cuaca sangat dingin.
Pengujian juga menunjukkan paket baterai sodium-ion mampu menghasilkan daya lebih stabil saat suhu ekstrem, tanpa penurunan jarak tempuh drastis seperti yang umum terjadi pada baterai lithium-ion.
Era “Dua Kimia” Dimulai
CATL menyebut produksi massal ini menjadi awal fase “dual-chemistry”, yakni penggunaan dua jenis teknologi baterai secara bersamaan di industri EV. Artinya, produsen mobil dapat memilih jenis baterai sesuai kebutuhan—sodium-ion untuk iklim ekstrem dan biaya lebih rendah, sementara lithium-ion tetap digunakan untuk model jarak jauh dan pengisian cepat.
Keunggulan lain baterai sodium-ion ada pada bahan bakunya. Sodium dinilai jauh lebih melimpah dibanding lithium, sehingga pasokan dinilai lebih aman dan biaya produksi berpotensi lebih murah. Selain itu, risiko thermal runaway atau panas berlebih juga diklaim lebih rendah.
Lithium-ion Masih Tangguh
Meski begitu, baterai lithium-ion belum akan tergeser dalam waktu dekat. Teknologi ini masih unggul dalam hal daya tahan jangka panjang dan kemampuan pengisian super cepat. CATL sendiri mengklaim baterai lithium generasi terbaru mereka mampu mempertahankan 80 persen kapasitas setelah ribuan siklus pengisian dan dapat terisi penuh dalam waktu sangat singkat pada kondisi ideal.
Peluncuran sodium-ion ini diprediksi menjadi langkah awal transformasi industri EV, terutama untuk kendaraan murah dan pasar negara dengan iklim dingin ekstrem. Jika pengembangannya sukses, bukan tidak mungkin teknologi ini akan hadir lebih luas di berbagai model mobil listrik dalam beberapa tahun ke depan. (*)
Bagikan