Orang Amerika Menderita Kesepian

Minggu, 07 Mei 2023 16:34 WIB

Penulis:Pratiwi

sepi.jpg
ilustrasi | freepik

 

 

(sijori.id) - Sebuah laporan yang dirilis oleh Current Priorities of the U.S Suregon General berjudul "Our Epidemic of Loneliness and Isolation" menemukan bahwa bahkan sebelum pandemi COVID-19, sekitar setengah dari orang dewasa AS melaporkan mengalami tingkat kesepian yang terukur.

Hal ini tentu berimbas negatif pada kesehatan seseorang. Koneksi yang buruk dapat menghancurkan termasuk peningkatan resiko penyakit jantung sebesar 29%, peningkatan resiko stroke sebesar 32%, dan peningkatan resiko demensia untuk orang dewasa yang lebih tua sebesar 50%. Kurangnya koneksi bahkan meningkatkan resiko kematian dini ke tingkat yang sebanding dengan merokok 15 batang sehari.

"Dalam beberapa dekade terakhir, kita baru saja mengalami laju perubahan yang dramatis. Kita lebih banyak bergerak, lebih sering berganti pekerjaan, kita hidup dengan teknologi yang telah sangat mengubah cara kita berinteraksi satu sama lain dan cara kita berbicara satu sama lain." kata Dr. Vivek Murthy, ahli bedah umum seperti dilansir dari npr.org, Sabtu, 6 Mei 2023.

"Dan kamu bisa merasa kesepian bahkan jika kamu memiliki banyak orang di sekitarmu, karena kesepian adalah tentang kualitas koneksimu." lanjutnya.

Di seluruh kelompok usia, orang menghabiskan lebih sedikit waktu dengan satu sama lain secara langsung dibandingkan dua dekade lalu. Penasihat melaporkan bahwa fenomena ini paling terlihat pada orang muda berusia 15-24 tahun yang memiliki interaksi sosial 70% lebih sedikit dengan teman-teman mereka.

Murthy mengatakan bahwa banyak anak muda sekarang menggunakan media sosial sebagai pengganti hubungan tatap muka, dan ini seringkali berarti koneksi berkualitas rendah.

"Kami juga tahu bahwa bagi sebagian anak, online telah menjadi cara untuk menemukan komunitas di saat banyak dari mereka belum bisa," katanya.

"Namun, yang perlu kita lindungi adalah elemen teknologi, dan media sosial khususnya, yang berupaya memaksimalkan jumlah waktu yang dihabiskan anak-anak kita untuk online dengan mengorbankan interaksi langsung mereka." (*)