PBB
Minggu, 06 September 2026 20:53 WIB
Penulis:Pratiwi

NEW YORK (sijori.id) – Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyetujui resolusi yang mendorong penggunaan peta dunia dengan representasi ukuran benua yang lebih akurat. Langkah ini menjadi tonggak penting setelah selama berabad-abad dunia menggunakan proyeksi Mercator yang dinilai mendistorsi ukuran wilayah, terutama Afrika.
Resolusi bertajuk "Correct the Map" yang diajukan Togo dan didukung negara-negara anggota Uni Afrika (African Union/AU) memperoleh dukungan 164 negara, termasuk Indonesia, Prancis dan Inggris. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak, sementara enam negara memilih abstain.
Meski bersifat tidak mengikat secara hukum, keputusan tersebut diperkirakan akan memengaruhi penggunaan peta di berbagai lembaga internasional, institusi pendidikan, hingga organisasi global.
Selama ini, dunia banyak menggunakan proyeksi Mercator, peta yang dibuat kartografer Flemish Gerardus Mercator pada 1569 untuk membantu navigasi pelayaran Eropa.
Namun, proyeksi tersebut memiliki kelemahan mendasar. Karena permukaan bumi berbentuk bola diproyeksikan ke bidang datar, wilayah di sekitar kutub tampak jauh lebih besar dibanding ukuran sebenarnya, sedangkan kawasan dekat garis khatulistiwa terlihat lebih kecil.
Akibatnya, Afrika sering digambarkan hampir seukuran Greenland, padahal kenyataannya luas Afrika mencapai sekitar 30,4 juta kilometer persegi, atau sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland yang hanya sekitar 2,2 juta kilometer persegi.
Para pengkritik menilai distorsi tersebut selama ini memengaruhi persepsi dunia terhadap potensi ekonomi, sumber daya alam, hingga kebutuhan pembangunan negara-negara di kawasan khatulistiwa.
Sebagai alternatif, para kartografer pada 2018 mengembangkan Equal Earth Projection, sebuah proyeksi yang mempertahankan luas wilayah secara lebih proporsional.
Pada Februari lalu, seluruh 54 negara anggota Uni Afrika sepakat mengadopsi proyeksi tersebut karena dianggap mampu menggambarkan ukuran semua benua secara lebih akurat, khususnya Afrika.
Kelompok kampanye #CorrectTheMap juga menyoroti besarnya Afrika yang selama ini kurang dipahami publik.
Mereka menyebut bahwa Amerika Serikat, China, India, Jepang, Meksiko, serta sebagian besar wilayah Eropa masih dapat dimasukkan ke dalam Afrika, dan benua itu tetap memiliki ruang yang tersisa.
Menjelang pemungutan suara, Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey mengatakan bahwa perubahan peta bukan sekadar persoalan kartografi.
Menurutnya, peta bukanlah alat yang netral karena mampu membentuk cara manusia memandang posisi suatu bangsa maupun benua di dunia.
Pandangan tersebut mendapat dukungan Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noël Barrot, yang menyatakan kementeriannya akan berhenti menggunakan proyeksi Mercator.
Ia menegaskan bahwa mengganti peta memang tidak mengubah dunia secara langsung, tetapi memperbaiki representasi yang selama ini keliru merupakan langkah menuju penyajian fakta yang lebih benar.
Di sisi lain, Amerika Serikat menilai pembahasan tersebut bukan prioritas Majelis Umum PBB.
Perwakilan AS di PBB, Yaryna Ferencevych, mengatakan badan dunia seharusnya lebih fokus pada isu perdamaian, kesejahteraan, dan hubungan internasional dibanding memperdebatkan proyeksi peta dari abad ke-16.
Penolakan ini melanjutkan sikap kritis Washington terhadap sejumlah resolusi PBB terkait isu sejarah dan keadilan global, termasuk resolusi mengenai perdagangan budak transatlantik yang disahkan pada Maret lalu.
Sejumlah akademisi Afrika menilai perubahan ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar pembaruan visual.
Lerato Mogoatlhe dari organisasi Africa No Filter menyebut kesalahan representasi Afrika di peta dunia merupakan bagian dari narasi yang telah berlangsung selama berabad-abad dan membentuk persepsi global yang keliru terhadap benua tersebut.
Sementara itu, geograf asal Kenya Kioko Muendo menilai peta tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk arah, tetapi juga memengaruhi cara dunia melihat kekuatan politik, ekonomi, sumber daya, dan peluang investasi suatu kawasan.
Dengan disetujuinya resolusi ini, PBB berharap representasi dunia di atas peta menjadi lebih adil dan mendekati kondisi geografis sebenarnya, sehingga mampu membangun pemahaman yang lebih akurat mengenai ukuran dan posisi setiap benua. (*)
Bagikan