Jumat, 06 Maret 2026 10:18 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) - Puasa tidak hanya berdampak pada pola makan, tetapi juga memicu perubahan metabolisme di dalam tubuh. Ketika seseorang berpuasa dan tidak ada asupan kalori yang masuk, tubuh beralih dari kondisi “menyimpan energi” menjadi menggunakan cadangan energi yang sudah ada.
Secara fisiologis, kadar hormon insulin akan menurun karena tidak ada makanan yang dicerna. Dalam kondisi ini, tubuh mulai memanfaatkan sumber energi internal. Cadangan glikogen di hati dan otot digunakan lebih dulu, sebelum akhirnya tubuh memobilisasi lemak sebagai bahan bakar utama.
Para peneliti di bidang Cell Biology dan Metabolism menjelaskan bahwa fase ini juga memicu proses penting yang dikenal sebagai Autophagy. Autophagy merupakan mekanisme alami sel untuk membersihkan dan mendaur ulang komponen yang rusak atau tidak lagi berfungsi optimal.
Sel Tua Did aur Ulang
Dalam proses tersebut, tubuh menargetkan sel-sel menua (senescent cells)—yakni sel yang masih aktif secara metabolik tetapi tidak lagi bekerja secara efektif. Sel-sel tersebut dipecah menjadi komponen dasar seperti asam amino dan substrat metabolik lain, yang kemudian dimanfaatkan kembali oleh tubuh sebagai sumber energi atau bahan perbaikan jaringan.
Para ilmuwan menilai mekanisme ini penting karena membantu tubuh mengganti komponen sel yang rusak dengan komponen baru yang lebih fungsional. Dengan demikian, proses pemeliharaan jaringan dapat berjalan lebih efisien.
Penelitian yang dipublikasikan oleh National Institute on Aging menunjukkan bahwa autophagy memiliki peran dalam menjaga keseimbangan sel dan berpotensi berkaitan dengan proses penuaan serta kesehatan metabolik.
Dampak pada Peradangan
Seiring berlangsungnya proses pembersihan sel tersebut, sinyal peradangan dalam tubuh juga dapat menurun. Sebagian sumber energi yang biasanya digunakan untuk proses pencernaan dialihkan ke fungsi lain seperti perbaikan jaringan, pemeliharaan sel, dan regenerasi komponen biologis.
Namun para ahli menekankan bahwa manfaat biologis tersebut sangat dipengaruhi oleh pola puasa yang sehat, durasi, serta kondisi tubuh masing-masing individu. Oleh karena itu, puasa tetap perlu dijalankan secara seimbang dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi saat berbuka dan sahur.
Dalam praktiknya, puasa telah lama dikenal dalam berbagai tradisi keagamaan dan budaya. Kajian ilmiah modern kini mulai meneliti lebih jauh bagaimana praktik tersebut dapat memengaruhi metabolisme, peradangan, dan proses peremajaan sel di dalam tubuh. (*)
Bagikan