Rabu, 12 November 2025 10:42 WIB
Penulis:Pratiwi
Editor:Pratiwi

AUSTRALIA (sijori.id) - Perjalanan udara jarak jauh akan segera memasuki babak baru. Maskapai nasional Australia, Qantas, mengumumkan bahwa pesawat super jarak jauh mereka—Airbus A350-1000ULR—telah memasuki tahap akhir perakitan di fasilitas Airbus Toulouse, Prancis.
Pesawat ini menjadi tulang punggung proyek ambisius bertajuk “Project Sunrise”, yang ditujukan untuk membuka penerbangan langsung dari London atau New York ke Sydney dan Melbourne tanpa henti. Waktu tempuh yang dulu memakan lebih dari sepekan, kini bisa ditempuh hanya dalam 22 jam penerbangan nonstop.
Untuk mencapai kemampuan itu, Airbus melengkapi pesawat dengan tangki bahan bakar tambahan berkapasitas 20.000 liter di bagian tengah belakang. Dengan daya jelajah ekstrem tersebut, Qantas menyebut penerbangan ini mampu “melintasi dua kali matahari terbit” dalam satu perjalanan.
Ketika mulai beroperasi pada paruh pertama tahun 2027, rute ultra-long-haul ini diperkirakan memangkas waktu perjalanan hingga empat jam dibanding penerbangan konvensional dengan transit. Sebelumnya, penerbangan terjauh Qantas adalah rute Perth–London menggunakan Boeing 787-9 Dreamliner yang memakan waktu 17 jam nonstop.
Proyek yang dimulai sejak 2017 itu sempat tertunda akibat pandemi Covid-19. Namun pada 2022, Qantas resmi memesan 12 unit A350-1000ULR untuk memperkuat armada penerbangan jarak jauhnya. Pesawat pertama dijadwalkan datang pada Oktober tahun depan.
Dalam pembaruan terbarunya, Qantas memperlihatkan tahap perakitan pesawat, mulai dari badan pesawat yang dikirim dengan pesawat kargo raksasa Airbus Beluga, hingga proses penyatuan sayap dan ekor di hanggar utama. Setelah semua bagian terpasang, pesawat akan dipindahkan ke hanggar baru untuk pemasangan mesin dan instrumen uji terbang.
Selain soal jarak tempuh, Project Sunrise juga menonjolkan kenyamanan dan kesehatan penumpang. Menurut CEO Qantas, Vanessa Hudson, desain kabin berbasis riset ilmiah akan membantu mengurangi jet lag dan meningkatkan kesejahteraan selama penerbangan panjang.
Jumlah kursinya pun lebih sedikit—hanya 238 kursi dibanding sekitar 400 kursi pada versi standar A350-1000. Ruang yang tersisa dimanfaatkan untuk menghadirkan “Wellbeing Zone”, area khusus di antara kabin kelas ekonomi premium dan ekonomi, serta suite kelas satu dengan fasilitas premium.
Jika semua berjalan sesuai jadwal, perjalanan dari London atau New York ke Sydney tanpa transit bukan lagi mimpi—melainkan kenyataan baru di dunia penerbangan modern. (*)
Bagikan