Hubungan
Minggu, 08 Februari 2026 21:48 WIB
Penulis:Pratiwi

(sijori.id) – Hilangnya keintiman dalam hubungan tidak hanya berdampak pada kehidupan seksual, tetapi juga pada kondisi emosional pria. Perubahan itu sering kali muncul dalam bentuk sikap dingin, menjauh, pendiam, atau mudah tersinggung—tanpa disadari oleh yang bersangkutan.
Dalam perspektif psikologi dan fisiologi, keintiman berperan sebagai mekanisme regulasi emosi. Testosteron tidak semata-mata berkaitan dengan dorongan seksual, tetapi juga memengaruhi motivasi, rasa percaya diri, dan ketegasan emosional. Ketika hormon ini menurun, tubuh mencari cara untuk meredakan tekanan, namun kerap menyalurkannya melalui iritasi atau sikap defensif.
Di sisi lain, kadar oksitosin—hormon yang menciptakan rasa tenang dan aman dalam relasi—turut berkurang. Dampaknya, hormon stres seperti kortisol meningkat, membuat sistem saraf berada dalam kondisi waspada. Situasi kecil pun terasa lebih berat: komentar sederhana dianggap menyakitkan, keterlambatan dipersepsikan sebagai bentuk ketidakpedulian, dan penolakan keintiman terasa seperti penolakan terhadap identitas diri.
Perlahan, sebagian pria memilih menarik diri. Mereka tampak sibuk, menjaga jarak, dan mengurangi komunikasi. Bukan karena kehilangan rasa cinta, melainkan karena keterlibatan emosional justru menimbulkan rasa tidak nyaman.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan sikap pria dalam hubungan tidak selalu berakar pada hilangnya ketertarikan. Dalam banyak kasus, yang hilang adalah rasa aman dan dihargai. Ketika perasaan itu memudar, jarak menjadi bahasa yang paling mudah diucapkan. (*)
Bagikan
Hubungan
3 bulan yang lalu