Selasa, 04 Oktober 2022 14:20 WIB
Penulis:Pratiwi
Editor:Pratiwi

YOGYA (sijori.id) - Kementerian Perindustrian Fasilitasi Sertifikasi Batikmark “Batik Indonesia” Kepada 50 Industri Batik dari Sumatra hingga Papua. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, industri batik merupakan salah satu sektor yang selama ini memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional, termasuk yang banyak membuka lapangan kerja.
Batik mark ini bentuknya seperti label berukuran 2 cm ini ditandai dengan logo "batik Indonesia" di atas warna dasar hitam. Ada tiga jenis batik mark yang masing-masing dipakai untuk membedakan tiga jenis batik, yaitu menggunakan tulisan warna emas untuk batik tulis, warna perak untuk batik kombinasi cap dan tulis, serta tulisan warna putih untuk batik cap.
Menurut Menperin sektor yang didominasi oleh industri kecil dan menengah (IKM) ini telah menyerap tenaga kerja sebanyak 200.000 orang dari 47.000 unit usaha yang tersebar di 101 sentra wilayah Indonesia. Industri batik, yang merupakan bagian dari industri tekstil, juga menjadi salah satu sektor andalan dalam implementasi peta jalan terintegrasi Making Indonesia 4.0.
"Sumbangsih industri batik terhadap devisa tercermin melalui capaian ekspor sepanjang tahun 2021 yang mencapai 46,24 juta USD dan pada periode semester 1 tahun 2022 nilai ekspor produk batik mencapai 27,42 juta USD juta," kata Menperin.
Menperin menambahkan kinerja industri batik yang baik ini diharapkan terus berkembang maju seiring dengan pulihnya kondisi ekonomi nasional pasca pandemi.
Sementara itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI)-Kementerian Perindustrian, Dr. Ir Doddy Rahadi, MT dalam acara puncak peringatan Hari Batik Nasional (HBN) Tahun 2022 yang berlangsung secara hybrid (secara online dan offline) di Kantor Balai Besar Standarisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB), Yogyakarta, pada Selasa (4/10) tanggal 4 Oktober 2022 menjelaskan Hari Batik Nasional merupakan bagian tak terpisahkan atas pengukuhan UNESCO bahwa batik Indonesia menjadi warisan Budaya Tak Benda peninggalan budaya dunia, yang ditetapkan tanggal 2 Oktober 2009 lalu.
"Pengukuhan UNESCO tersebut menjadi suatu kebanggaan dan sekaligus tantangan bagi Bangsa Indonesia, karena seluruh pemangku kepentingan batik di Indonesia dituntut untuk terus melestarikan, dan melindungi batik sebagai warisan budaya yang berkelanjutan."
Lebih lanjut, Kepala BSKJI menyampaikan bahwa tema HBN tahun ini adalah “Batik Merangkai Indonesia”. Batik sebagai budaya asli milik Indonesia kini telah tumbuh di daerah-daerah yang bahkan tidak memiliki tradisi membatik. Batik dari sudut pandang industri telah mendorong banyak daerah untuk bisa memiliki ciri khas dan motif yang mewakili unsur kearifan lokal.
Di sisi lain, kata Dr. Ir Doddy Rahadi, MT tema ini juga sejalan dengan presidensi G20 ‘Recover Together, Recover Stronger’ yang tercermin dari besarnya tenaga kerja yang bergantung pada industri ini.
"Keberadaan industri batik nusantara inilah yang diharapkan mampu menjadi sarana pemersatu Indonesia untuk pulih dan bangkit dari dampak pandemi yang saat ini tengah berlangsung."
Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian, Dra. Hendra Yetty, M. Si menyampaikan bahwa rangkaian HBN tahun ini menyuguhkan beberapa agenda kegiatan. Diantaranya
Kepala Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB) Kementerian Perindustrian, Dra. Hendra Yetty, M. Si
Fasilitasi Batik Mark diberikan kepada 50 (lima puluh) IKM terpilih yang mewakili industri batik di nusantara, dari Sumatra hingga Papua. Penyerahan sertifikat secara simbolis oleh Menteri Perindustrian diberikan kepada
(1) Batik Erna dari Mojokerto;
(2) Batik Kuntul Perak dari Bontang ;
(3) Batik Zhorif dari Jambi ;
(4) Zulpah Batik dari Bangkalan ;
(5) Batik Beras Basah dari Bontang Kalimantan Timur.
Menurutnya, fasilitasi Sertifikasi Batikmark ini merupakan bentuk dukungan Kementerian Perindustrian dalam upaya penjaminan mutu, kualitas dan keaslian produk batik Indonesia agar semakin berdaya saing, baik di pasar lokal maupun global. Adanya labelisasi batikmark ini juga sekaligus dapat dijadikan identitas bahwa produk batik tersebut asli buatan Indonesia. Dengan demikian, batik Indonesia mudah dikenal dan terpercaya di kancah dunia.
Sedangkan kegiatan Workshop Batik bagi pelajar dan mahasiswa serta masyarakat umum akan diselenggarakan selama 2 (dua) hari pada tanggal 3-4 Oktober 2022 dan bertempat di Kantor Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa industri Kerajinan dan Batik (BBSPJIKB), Jl. Kusumanegara No. 7 Yogyakarta.
Acara ini diikuti oleh kurang lebih 100 peserta yang berasal dari pelajar dan mahasiswa, serta masyarakat umum perwakilan dari pelosok nusantara. Kegiatan workshop dilaksanakan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat termasuk kalangan muda (mileneal) mengenai proses pembuatan batik sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya batik Indonesia.
Agenda kegiatan Seminar Nasional Indutri Kerajinan dan Batik (SNIKB) 2022 yang akan diselenggarakan pada tanggal 26 Oktober 2022 akan diikuti oleh peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti instansi pemerintah baik pusat maupun daerah, institusi pendidikan, asosiasi dan paguyuban, pelaku industri kerajinan dan batik serta masyarakat umum.
Tujuan penyelenggaraan SNIKB adalah menjadi wadah bagi para pemangku kepentingan untuk mempublikasikan hasil karya ilmiah serta form diskusi bidang kerajinan dan batik. SNIKB tahun 2022 turut menghadirkan pembicara inti dari Institusi pendidikan Politeknik Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta BUMN di bidang ritel yang selama ini turut mendukung produk kreatif UMKM lokal unggulan, yaitu PT. Sarinah.
Adapun kegiatan online talkshow bertajuk Ngobrol Pagi Penuh Inspirasi (NgoPPI) yang secara rutin diselenggarakan setiap kamis pagi selama bulan Agustus hingga November nanti menyajikan topik ragam pesona batik eksotis nusantara antara lain Batik Tanah Liek Sumatera Barat, Batik Complongan Indramayu, Batik Gedogan Tuban, Batik Buketan Pekalongan, Batik Gentongan Bangkalan, Batik Sasambo Mataram, Batik Tidayu Singkawang, dan Batik Besurek Bengkulu.
Penyelenggaraan acara ini melibatkan peserta daring dari berbagai kalangan diantaranya pelaku industri batik, berbagai satuan kerja pemerintah terkait industri, akademisi, asosiasi dan masyarakat umum, yang ditargetkan mencapai 1600 orang partisipan.
Acara talkshow ini diharapkan dapat menjadi ajang sharing dan diskusi para stakeholders di bidang batik dan kerajinan di Indonesia. (*)
Bagikan