Singapura
Sabtu, 06 Juni 2026 07:28 WIB
Penulis:Pratiwi

SINGAPURA (sijori.id) – Singapura resmi mengoperasikan peternakan rainbow trout pertama di negara tersebut. Fasilitas budidaya ikan air dingin berteknologi tinggi yang dikembangkan oleh Blue Aqua International itu diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor seafood premium.
Trout adalah kelompok ikan air tawar yang termasuk dalam keluarga Salmonidae, satu keluarga dengan salmon. Ikan ini hidup di perairan yang dingin, jernih, dan kaya oksigen seperti sungai pegunungan, danau, serta perairan bersuhu rendah.
Berlokasi di Neo Tiew Crescent, Lim Chu Kang, peternakan seluas 1,6 hektare tersebut mulai beroperasi dengan kapasitas produksi awal 1.200 ton rainbow trout per tahun. Perusahaan menargetkan kapasitas produksi meningkat hingga 3.000 ton per tahun pada 2028.
Pendiri sekaligus Executive Chairman Blue Aqua International, Farshad Shishehchian, mengatakan fasilitas tersebut merupakan peternakan trout darat pertama di Singapura yang memanfaatkan teknologi modern untuk membudidayakan spesies ikan air dingin di iklim tropis.
“Rainbow trout merupakan ikan premium yang kaya protein dan omega-3 serta memiliki cita rasa yang bersih. Produk ini telah diterima luas oleh konsumen di berbagai negara,” ujarnya.
Sebagai perbandingan, total produksi seafood Singapura pada 2025 tercatat sekitar 3.800 ton. Dengan kapasitas yang ditargetkan, peternakan baru ini berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap target ketahanan pangan nasional.
Blue Aqua menyebut proyek tersebut mendukung sasaran Singapura untuk memenuhi 30 persen kebutuhan protein domestik dari produksi lokal pada 2035. Kategori protein tersebut mencakup hasil laut dan telur.
Membudidayakan rainbow trout di negara beriklim tropis menjadi tantangan tersendiri karena spesies ini umumnya hidup di perairan dingin kawasan Eropa dan Amerika Utara.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Blue Aqua menerapkan teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS), yaitu sistem budidaya tertutup yang memungkinkan air terus disaring, didinginkan, diolah, dan digunakan kembali.
Melalui sistem ini, suhu air, kualitas lingkungan, kadar oksigen terlarut, serta biosekuriti dapat dikontrol secara ketat sepanjang tahun tanpa dipengaruhi kondisi cuaca luar.
Teknologi RAS juga memungkinkan produksi dilakukan pada lahan terbatas dengan kebutuhan tenaga kerja yang lebih efisien dibandingkan metode budidaya konvensional.
Menurut perusahaan, pendekatan tersebut dapat menghasilkan pasokan ikan premium yang lebih segar karena rantai distribusi menjadi lebih pendek dari lokasi produksi ke konsumen.
Blue Aqua mengungkapkan investasi yang telah dikucurkan untuk pembangunan fasilitas trout mencapai sekitar 35 juta dolar Singapura. Secara keseluruhan, perusahaan menyiapkan investasi sekitar 45 juta dolar Singapura untuk pengembangan bisnis akuakultur di negara tersebut.
Proyek ini juga memperoleh dukungan dari Singapore Food Agency melalui program Agri-Food Cluster Transformation Fund.
Farshad menjelaskan bahwa investasi tambahan akan dilakukan secara bertahap seiring peningkatan kapasitas produksi menuju tahap operasional penuh.
“Fasilitas ini membutuhkan infrastruktur khusus yang cukup kompleks karena harus menciptakan kondisi lingkungan yang ideal bagi spesies ikan air dingin di wilayah tropis,” katanya.
Sebelumnya, Blue Aqua mengumumkan pada Januari 2022 bahwa peternakan trout tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada 2023. Namun realisasinya baru terwujud pada 2026.
Menurut Farshad, keterlambatan disebabkan oleh kompleksitas desain sistem budidaya air dingin di lingkungan tropis, termasuk tantangan rekayasa dan konstruksi.
Ia mengakui jadwal awal yang ditetapkan perusahaan tergolong sangat ambisius.
Peluncuran peternakan trout ini menjadi sinyal positif bagi sektor produksi pangan Singapura yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi berbagai tantangan.
Sejak 2022, sejumlah usaha pertanian dan akuakultur lokal dilaporkan menghentikan operasional akibat tingginya biaya energi, biaya produksi, kebutuhan modal besar, serta melemahnya kepercayaan investor.
Meski demikian, Blue Aqua optimistis model bisnis berbasis teknologi dapat menjaga profitabilitas usaha melalui produksi berkapasitas tinggi, kualitas yang konsisten, pengendalian operasional yang ketat, serta posisi produk di segmen premium.
Selain melayani pasar domestik, perusahaan juga membuka peluang ekspor rainbow trout segar ke sejumlah negara di kawasan Asia yang menunjukkan pertumbuhan permintaan terhadap seafood premium. (*)
Bagikan