Tiongkok Masih dan Akan Terus Jadi Lahan Basah untuk Industri Barang Mewah

Sabtu, 13 Januari 2024 14:31 WIB

Penulis:Pratiwi

Tembus Rp24 Kuadriliun di 2023, Mengapa Ahli Prediksi Pasar Barang Branded Tahun Ini Lesu?
.

CHINA (sijori.id) -- Dalam sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Bain & Company dan Altagamma, ditemukan bahwa meskipun menghadapi masa-masa sulit seperti saat ini, industri barang mewah diperkirakan akan terus mengalami pertumbuhan satu digit setiap tahunnya hingga paling tidak tahun 2030.

Pada tahun 2030, Tiongkok diprediksi akan menguasai sekitar 35 hingga 45% dari pasar barang mewah pribadi, sementara konsumen Eropa dan Amerika diharapkan tetap berkontribusi sekitar 40%. Hal ini menunjukkan kecenderungan peningkatan dominasi pasar oleh konsumen Asia, khususnya Tiongkok.

Sementara itu, Amerika Serikat mengalami penurunan pengeluaran sebesar 8% pada tahun 2023. Penurunan ini terjadi karena para pembeli Amerika terus memilih untuk membeli baƒbararang-barang mewah di luar negeri, dengan dolar yang tetap kuat terhadap euro.

Keuntungan ekonomis dari pembelian di luar negeri menjadi lebih menguntungkan bagi konsumen AS.

Di sisi lain, pengeluaran di Tiongkok saat ini mencapai sekitar 40%. Fenomena ini mencerminkan pertumbuhan ekonomi yang stabil di Tiongkok, sekaligus mengindikasikan daya beli yang terus meningkat di negara tersebut.

Di negara lain seperti Jepang, penjualan barang mewah melonjak, didorong oleh pembeli lokal yang setia dan melemahnya nilai yen.

Peningkatan yang signifikan juga terlihat di wilayah Hong Kong, Makau, dan Asia Tenggara, yang semuanya menunjukkan tren pertumbuhan yang positif di pasar barang mewah.

Selain itu, generasi Z, yang saat ini berkembang menjadi konsumen yang semakin berpengaruh, diproyeksikan akan menyumbang sekitar 25 hingga 30% dari total pembelian barang mewah.

Di sisi lain, generasi milenial diperkirakan akan menjadi kekuatan dominan dengan menyumbang sekitar 50 hingga 55% dari total pembelian barang mewah. Hal ini menggambarkan pergeseran preferensi dan kebiasaan belanja antara generasi yang berbeda.

Di tengah ekonomi global yang menghadapi tantangan, pasar barang mewah global pada tahun 2023 mencapai nilai US$1,6 triliun atau setara Rp24 kuadriliun (kurs Rp15.000).

Namun tampaknya pertumbuhan ini tak menjamin tren yang sama di 2024 dan para ahli memperirakan bahwa pembeli akan menjadi lebih hemat dalam pengeluaran mereka.

Dr Daniel Langer, founder dan CEO perusahaan konsultan barang mewah, Équité memproyeksikan di tahun 2024, akan terjadi perlambatan pertumbuhan pasar yang signifikan dan akan stabil pada tingkat historis sekitar 4-7%. (*)

Tags:China