Singapura
Sabtu, 10 Januari 2026 17:08 WIB
Penulis:Pratiwi

SINGAPURA (sijori.id) - Minat warga Singapura terhadap mobil bermesin bensin kembali menguat. Studi EY terbaru mencatat, 32 persen responden di Singapura berencana membeli kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) dalam dua tahun ke depan. Angka ini naik dari 26 persen pada 2024.
Kenaikan minat tersebut dipicu kekhawatiran yang belum sepenuhnya terjawab, mulai dari keterbatasan infrastruktur pengisian daya hingga biaya tersembunyi kendaraan listrik (EV). Temuan itu tertuang dalam EY Mobility Consumer Index (MCI) 2025 yang dirilis Jumat (9/1).
Tren di Singapura sejalan dengan kecenderungan global. Banyak konsumen kembali memilih mobil bensin yang dinilai lebih familiar, meski penjualan EV pada 2025 diperkirakan tetap tinggi. Secara global, 50 persen responden menyatakan cenderung membeli mobil ICE, naik dari 37 persen pada 2024.
Meski demikian, preferensi terhadap ICE di Singapura masih di bawah rata-rata dunia. Negara kota tersebut tetap dipandang sebagai salah satu pasar terdepan adopsi EV di Asia Tenggara. Namun, survei terhadap 300 calon pembeli mobil lokal menunjukkan kepercayaan konsumen belum sepenuhnya solid.
Kekhawatiran praktis menjadi faktor penentu. Celah jaringan pengisian daya dan mahalnya biaya penggantian baterai membuat sebagian konsumen menahan minat terhadap EV. “Konsumen kini menilai kepemilikan kendaraan secara lebih realistis dan berhati-hati,” kata Sriram Changali, pimpinan EY-Parthenon sektor industri ASEAN dan Singapura.
Minat terhadap EV memang masih dominan, tetapi melemah. Sebanyak 58 persen responden menyatakan tertarik membeli EV dalam dua tahun ke depan, turun dari 73 persen pada 2024. Angka tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan rata-rata global yang berada di 43 persen. Sementara itu, 10 persen responden masih belum menentukan pilihan.
Data penjualan menunjukkan EV menyumbang 43 persen dari total pendaftaran mobil penumpang baru di Singapura selama sembilan bulan pertama 2025, atau sekitar 16 ribu unit. Pangsa ini meningkat dibandingkan 33,8 persen pada 2024 dan 18,2 persen pada 2023.
EY juga mencatat, lebih dari separuh responden Singapura mengeluhkan kualitas dan interoperabilitas charger publik—dua kali lipat dibanding rata-rata global. Sekitar 40 persen lainnya menyoroti mahalnya biaya penggantian baterai dan keterbatasan infrastruktur pengisian.
Di sisi lain, produsen otomotif global mulai menyesuaikan strategi. Seiring perubahan kebijakan dan sikap konsumen, fokus pada portofolio ICE dan hybrid kembali diperkuat, sementara program EV dimoderasi. Pemerintah Singapura sendiri menargetkan hanya kendaraan berenergi lebih bersih yang boleh didaftarkan mulai 2030. (*)
Bagikan
Singapura
2 bulan yang lalu