2023, Tahun Berat untuk Investasi

Pratiwi - Jumat, 16 Desember 2022 06:45 WIB
Bahlil Lahadalia - Menteri Investasi - Kepala BKPM

JAKARTA (sijori.id) - 2023 merupakan tahun yang berat untuk investasi. Demikian pernyataan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. Tahun itu memasuki tahun politik menuju pemilihan presiden (Pilpres) 2024.

Menurut Bahlil adanya pesta demokrasi membuat investor menunggu dan melihat dahulu sebelum menanamkan investasinya di masa-masa tersebut. Namun penilaian ini berdasarkan pengalamannya sebagai pengusaha.

"Dalam konteks investasi jujur 2023 ini tahun yang berat sekalipun pertumbuhan ekonomi nasional RI oleh beberapa lembaga dunia dikatakan baik-baik saja," katanya dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI beberapa waktu lalu.

Berdasarkan pengalamannya sebagai mantan pengusaha baru akan melakukan sebuah proses diversifikasi atau investasi baru jika terjadi rasa percaya. Bahkan Kepala BKPM ini menyebut yang bisa menyelamatkan ekonomi Indonesia pada 2023 adalah stabilitas politik.

Jika investasi ke depan tidak ada kepastian dan stabilitas, realisasi investasi dikhawatirkan tidak bisa sebaik 2022 yang ditargetkan mencapai Rp1.200 triliun. Perlu diketahui hngga akhir kuartal III-2022, pencapaian realisasi investasi sudah mencapai Rp894 triliun atau sebesar 74,4% dari target.

Sebelumnya Bahlil juga sudah membeberkan target investasi 2023 ada di angka Rp1.400 triliun. Namun, ia mengklaim ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Pertama, adanya stabilitas politik yang harus baik, kedua diharapkan perang Rusia-Ukraina berakhir dan ketiga, ketegangan politik antara Cina dan Taiwan tidak terjadi lagi.

Lalu saat ini investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI) yang masuk, sudah tidak berfokus di Jawa saja. Bahlil menegaskan saat ini aliran investasi asing itu mulai masuk ke Palu, Maluku Utara sampai Sumatera.

Namun meskipun begitu, Bahlil meyakini hingga akhir tahun 2022 indonesia masih akan tetap cuan atau mendapat durian runtuh. Salah satu penyebabnya adalah hilirisasi menjadi kunci untuk mendorong Indonesia menjadi negara maju.

Sesuai arahan pemerintah kini mulai mengurangi ekspor bahan mentah, serta transisi energi membuat Indonesia akan menjadi raja baterai EV.

"40% komponen mobil listrik itu baterai, 60% baru mobilnya. Bahan bakunya nikel mangan, cobalt dan litium. Dan 25% total cadangan nikel dunia ada di Indonesia," tandasnya. (*)

Tags InvestasiBagikan

RELATED NEWS

‌‌‌
‌‌‌
‌‌‌