30 Hari di Tempat Tidur, Ini Dampaknya

Pratiwi - Sabtu, 28 Februari 2026 10:36 WIB
null

(sijori.id) – Berbaring di tempat tidur tanpa aktivitas fisik dalam waktu lama bukan sekadar membuat tubuh terasa lemas. Dalam kurun 30 hari, imobilisasi hampir total dapat memicu penyusutan otot, gangguan fungsi jantung dan paru-paru, hingga penurunan keseimbangan dan daya pikir.

Dokter spesialis kedokteran olahraga dan rehabilitasi medik menjelaskan, kondisi ini dikenal sebagai deconditioning, yakni penurunan fungsi tubuh akibat kurang gerak berkepanjangan. Tubuh manusia dirancang untuk bergerak. Ketika aktivitas berhenti, sistem otot, kardiovaskular, dan saraf ikut menurun kapasitasnya.

Minggu Pertama: Otot Mulai Menyusut

Dalam 24–72 jam pertama tanpa aktivitas, tubuh mulai kehilangan massa otot. Studi fisiologi menunjukkan, seseorang yang menjalani bed rest total bisa kehilangan 1–3 persen massa otot per hari pada fase awal, terutama di bagian kaki. Otot paha dan betis menjadi yang paling cepat terdampak karena biasanya menopang berat badan.

Memasuki minggu pertama, sendi terasa kaku akibat berkurangnya pelumasan alami (cairan sinovial). Denyut jantung juga cenderung meningkat saat berdiri karena tubuh kehilangan adaptasi terhadap posisi tegak. Kondisi ini disebut orthostatic intolerance.

Dua Pekan: Jantung dan Paru Menurun

Setelah dua minggu, dampak sistemik mulai terasa. Volume plasma darah dapat berkurang sehingga jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah. Kapasitas paru-paru ikut menurun karena otot pernapasan jarang digunakan secara optimal.

Secara klinis, pasien yang lama terbaring juga berisiko mengalami pembekuan darah (deep vein thrombosis) akibat aliran darah yang melambat di tungkai.

Tiga Pekan: Gangguan Nyeri dan Psikologis

Pada pekan ketiga, keluhan nyeri punggung dan leher umum terjadi akibat perubahan distribusi tekanan tubuh. Sirkulasi perifer yang kurang aktif membuat tangan dan kaki terasa lebih dingin.

Dari sisi psikologis, kurang paparan aktivitas dan rangsangan sosial dapat memicu perubahan suasana hati, rasa lesu, hingga gejala depresi ringan. Sejumlah penelitian menunjukkan kurang gerak berkorelasi dengan penurunan fungsi kognitif, termasuk konsentrasi dan kecepatan berpikir.

Hari ke-30: Keseimbangan dan Fungsi Otak Terganggu

Setelah 30 hari, kekuatan otot dan keseimbangan menurun signifikan. Aktivitas sederhana seperti berjalan ke kamar mandi dapat terasa berat. Tubuh beradaptasi dengan kondisi pasif, sehingga pemulihan membutuhkan waktu dan latihan bertahap.

Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, kurang aktivitas fisik menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit tidak menular seperti penyakit jantung dan diabetes. Secara global, sekitar 1 dari 4 orang dewasa tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik minimal 150 menit per minggu.

Pentingnya Aktivitas Fisik Bertahap

Dalam praktik klinis, pasien yang harus menjalani bed rest karena kondisi medis biasanya tetap dianjurkan melakukan latihan ringan, seperti gerakan pasif atau latihan pernapasan, untuk mencegah komplikasi.

Pakar menegaskan, tubuh memang cepat beradaptasi dengan kondisi pasif, tetapi adaptasi tersebut justru mengarah pada penurunan fungsi. Karena itu, menjaga aktivitas fisik sesuai kemampuan menjadi kunci mempertahankan kesehatan jangka panjang.

Singkatnya, beristirahat memang penting, tetapi diam total dalam waktu lama dapat membawa konsekuensi serius bagi tubuh dan pikiran. . (*)

Editor: Pratiwi

RELATED NEWS