Al-Khwarizmi, Ilmuwan Persia yang Melahirkan Istilah Aljabar dan Algoritma

Pratiwi - Kamis, 09 Juli 2026 14:42 WIB
null

(sijori.id) - Dunia modern tidak bisa dilepaskan dari aljabar dan algoritma. Kedua istilah tersebut menjadi fondasi matematika, teknologi, hingga kecerdasan buatan (AI). Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa keduanya berasal dari sosok yang sama, yakni ilmuwan Persia abad ke-9 bernama Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi.

Al-Khwarizmi hidup sekitar tahun 780–850 Masehi dan berkarya di House of Wisdom (Bayt al-Hikma) di Baghdad, pusat penelitian dan penerjemahan ilmu pengetahuan pada masa Kekhalifahan Abbasiyah.

Asal-usul Kata Aljabar

Istilah aljabar berasal dari judul buku monumental Al-Khwarizmi yang ditulis sekitar tahun 820 M, yaitu Al-Kitab al-Mukhtasar fi Hisab al-Jabr wal-Muqabala.

Dalam bahasa Arab, al-jabr berarti "melengkapi" atau "memulihkan", yaitu proses memindahkan suku negatif ke sisi lain persamaan agar menjadi positif. Ketika karya tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad pertengahan, istilah al-jabr disingkat menjadi algebra, yang kemudian menjadi nama resmi cabang ilmu matematika tersebut.

Buku ini menjadi karya pertama yang menyusun aljabar sebagai disiplin ilmu tersendiri, bukan sekadar teknik berhitung.

Di dalamnya, Al-Khwarizmi menjelaskan metode sistematis untuk menyelesaikan persamaan linear dan kuadrat, lengkap dengan pembuktian geometri serta penerapannya dalam pembagian warisan, perdagangan, dan pengukuran tanah.

Asal-usul Kata Algoritma

Selain aljabar, nama Al-Khwarizmi juga melahirkan istilah algoritma.

Istilah tersebut berasal dari pelatinan namanya menjadi Algoritmi, Algorismi, atau Algorismus dalam berbagai naskah Eropa abad pertengahan.

Melalui bukunya mengenai sistem bilangan Hindu-Arab, Al-Khwarizmi memperkenalkan sistem angka desimal, termasuk konsep angka nol, kepada dunia Barat.

Pada masa itu, masyarakat Eropa masih banyak menggunakan angka Romawi yang jauh lebih rumit untuk perhitungan.

Awalnya, kata algorismus merujuk pada metode berhitung menggunakan angka Hindu-Arab. Seiring perkembangan ilmu matematika dan komputer, maknanya meluas menjadi serangkaian langkah sistematis untuk menyelesaikan suatu masalah, yang kini dikenal sebagai algoritma.

Berkarya di House of Wisdom

Al-Khwarizmi bekerja di House of Wisdom, perpustakaan sekaligus pusat penelitian terbesar pada masa Kekhalifahan Abbasiyah yang berkembang pesat di bawah Khalifah Al-Ma'mun (813–833 M).

Lembaga tersebut menjadi tempat penerjemahan karya-karya ilmiah dari Yunani, Persia, India, dan Suriah ke dalam bahasa Arab.

Sebagai kepala perpustakaan sekaligus ilmuwan, Al-Khwarizmi memiliki akses terhadap berbagai karya besar dari tokoh-tokoh seperti Euclid, Archimedes, Diophantus, dan Ptolemy, serta naskah matematika dari India.

Ia kemudian menggabungkan berbagai tradisi keilmuan tersebut menjadi sistem matematika baru yang menjadi dasar perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Warisan bagi Dunia Modern

Kontribusi Al-Khwarizmi tidak hanya mengubah cara manusia menyelesaikan persoalan matematika, tetapi juga menjadi fondasi bagi perkembangan ilmu komputer.

Saat ini, hampir seluruh perangkat digital—mulai dari ponsel pintar, mesin pencari internet, media sosial, hingga kecerdasan buatan—beroperasi menggunakan algoritma.

Sementara itu, aljabar menjadi bagian penting dalam pendidikan matematika, teknik, fisika, ekonomi, hingga analisis data.

Lebih dari 1.200 tahun setelah karya-karyanya ditulis di Baghdad, nama Al-Khwarizmi tetap hidup melalui dua istilah yang digunakan setiap hari oleh miliaran orang di seluruh dunia. (*)

RELATED NEWS