Alasan BAB di WC Jongkok lebih Baik

Pratiwi - Kamis, 19 Februari 2026 10:17 WIB
null

(sijori.id) - “Kenapa rasanya ada yang mengganjal?”
Baru duduk di toilet, sebagian feses keluar. Tapi sisanya terasa tertahan. Didorong, tetap saja seperti ada yang menghalangi.

Situasi ini ternyata cukup sering terjadi. Banyak orang mengira penyebabnya sembelit berat atau gangguan pencernaan. Padahal, bisa jadi masalahnya ada pada posisi duduk.

Secara anatomi, tubuh manusia sebenarnya lebih ideal untuk buang air besar dalam posisi jongkok. Saat duduk di kloset biasa tanpa penopang kaki, sudut antara rektum dan anus—disebut sudut rektorektal—masih dalam posisi menekuk.

Di area itu terdapat otot bernama puborectalis. Otot ini berfungsi seperti “karet pengikat” yang menjaga agar isi usus tidak keluar sembarangan. Saat posisi duduk kurang tepat, otot tersebut tetap tegang. Akibatnya, jalur keluarnya feses seperti selang yang tertekuk.

Hasilnya? Sebagian feses bisa keluar, tetapi sisanya terasa tertahan. Mendorong lebih kuat justru bisa membuat tidak nyaman, bahkan berisiko memicu wasir.

Solusinya sederhana. Gunakan bangku kecil atau toilet footstool untuk meninggikan kaki saat duduk. Dengan posisi lutut lebih tinggi dari pinggul, sudut rektum menjadi lebih lurus. Otot puborectalis pun lebih rileks.

Ketika jalur sudah lurus dan otot mengendur, proses BAB menjadi lebih alami dan tuntas tanpa perlu mengejan berlebihan.

Jadi, jika sering merasa “masih ada yang tertinggal” setelah dari toilet, coba perhatikan kembali posisi duduk Anda. Bisa jadi, bukan usus yang bermasalah—melainkan sudutnya yang belum tepat. (*)

Tags BAB posisi toiletBagikan

RELATED NEWS