Alasan di Eropa AC Tidak Banyak Digunakan

Pratiwi - Sabtu, 27 Juni 2026 20:02 WIB
ilustrasi

BERLIN (sijori.id) – Pendingin udara atau air conditioner (AC) telah lama menjadi perlengkapan standar di banyak rumah di Amerika Serikat, Jepang, hingga Australia. Namun kondisi berbeda masih terlihat di sebagian besar negara Eropa, terutama kawasan utara seperti Jerman, Denmark, dan Austria, di mana kepemilikan AC masih tergolong rendah.

Perubahan iklim yang memicu gelombang panas semakin sering terjadi kini mulai mengubah pola tersebut. Permintaan terhadap sistem pendingin udara meningkat tajam, meski berbagai kendala seperti biaya, desain bangunan, hingga pertimbangan lingkungan masih menjadi hambatan.

Kepemilikan AC di Eropa Masih Rendah

Menurut data yang dikutip dari US Department of Energy, sekitar 90 persen rumah di Amerika Serikat telah menggunakan AC.

Sebaliknya, rata-rata kepemilikan AC di Eropa hanya sekitar 20 persen. Angkanya pun berbeda-beda di setiap negara.

Spanyol: sekitar 50 persen rumah memiliki sistem pendingin.
Jerman: hanya sekitar 6 persen rumah yang menggunakan AC.

Selama bertahun-tahun, masyarakat Eropa tidak menganggap AC sebagai kebutuhan utama karena musim panas umumnya masih dapat diatasi dengan membuka jendela, menutup tirai, atau menggunakan kipas angin.

Gelombang Panas Kini Semakin Ekstrem

Situasi tersebut berubah dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukkan bahwa kejadian gelombang panas ekstrem meningkat lebih cepat dibandingkan proyeksi sebelumnya, terutama di kawasan Eropa Barat.

Analisis dari ClimaMeter, konsorsium riset cuaca ekstrem di Eropa, menemukan bahwa suhu pada Juni 2026 berada sekitar 2 hingga 4 derajat Celsius lebih tinggi dibandingkan kondisi serupa pada akhir abad ke-20.

Peningkatan suhu tersebut menyebabkan kebutuhan listrik untuk pendinginan terus meningkat.

Di Jerman, permintaan terhadap AC dan sistem pendingin melonjak 75 persen sepanjang periode 2019–2024, yang juga menjadi tahun terpanas dalam sejarah pencatatan modern.

Rumah-rumah Eropa Tidak Dirancang untuk Cuaca Panas

Salah satu alasan utama rendahnya penggunaan AC adalah karakter bangunan di Eropa.

Sebagian besar rumah, khususnya di Jerman dan Eropa Utara, dibangun untuk mempertahankan panas selama musim dingin, bukan untuk menjaga suhu tetap sejuk saat musim panas.

Memasang AC di bangunan lama juga tidak mudah karena memerlukan renovasi tambahan.

Di kota-kota bersejarah, pemasangan unit pendingin bahkan sering dibatasi oleh regulasi pelestarian bangunan maupun alasan estetika.

Bagi penyewa apartemen, pemasangan AC juga kerap terkendala izin dari pemilik bangunan sehingga banyak warga akhirnya memilih kipas angin atau solusi pendinginan sederhana lainnya.

Biaya Masih Menjadi Kendala

Harga listrik yang terus meningkat turut memengaruhi keputusan masyarakat untuk memasang AC.

Survei di Uni Eropa menunjukkan sekitar 38 persen responden mengaku tidak mampu menanggung biaya agar rumah mereka tetap sejuk selama musim panas.

Para peneliti juga memperingatkan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan rendah akan menjadi pihak yang paling terdampak ketika pendinginan berubah dari kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan pokok akibat perubahan iklim.

Penggunaan AC Juga Memiliki Dampak Lingkungan

Meski memberikan kenyamanan, penggunaan AC dalam skala besar juga menimbulkan tantangan baru.

Pendinginan bangunan kini menyumbang sekitar 10 persen konsumsi listrik global.

Jika listrik masih berasal dari pembangkit berbahan bakar fosil, penggunaan AC justru meningkatkan emisi gas rumah kaca yang memperparah pemanasan global.

Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa panas yang dibuang oleh unit AC dapat meningkatkan suhu udara di lingkungan sekitar sehingga menciptakan efek "lingkaran panas" di kawasan perkotaan.

Namun, transisi Eropa menuju energi terbarukan diperkirakan dapat mengurangi dampak emisi tersebut.

Alternatif yang Lebih Ramah Lingkungan

Alih-alih hanya mengandalkan AC, banyak negara Eropa mulai mengembangkan berbagai solusi pendinginan yang lebih berkelanjutan.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • desain bangunan dengan ventilasi silang alami;
  • penggunaan material yang tidak mudah menyerap panas;
  • pemasangan tirai, kanopi, dan peneduh matahari;
  • penggunaan heat pump yang dapat berfungsi sebagai pemanas sekaligus pendingin;
  • penambahan ruang hijau dan elemen air untuk mengurangi efek pulau panas perkotaan;
  • sistem district cooling, yakni pendinginan terpusat menggunakan jaringan air dingin bawah tanah yang melayani banyak bangunan sekaligus.

Selain itu, teknologi baru yang memanfaatkan sensor pintar dan kecerdasan buatan (AI) diklaim mampu meningkatkan efisiensi AC hingga 40 persen, sehingga konsumsi energi dan emisi karbon dapat ditekan.

Seiring meningkatnya frekuensi gelombang panas akibat perubahan iklim, para pakar menilai pendinginan tidak lagi sekadar fasilitas penunjang, melainkan mulai menjadi isu kesehatan masyarakat. Karena itu, banyak negara Eropa kini mempertimbangkan pendekatan baru agar masyarakat dapat menghadapi musim panas yang semakin ekstrem tanpa memperburuk dampak terhadap lingkungan. (*)

Editor: Pratiwi
Tags EropaBagikan

RELATED NEWS