Alasan Sering Bangun Jam 3 Pagi

Pratiwi - Selasa, 07 April 2026 13:54 WIB
null

(sijori.id) - Fenomena terbangun pada dini hari, terutama sekitar pukul 03.00, kerap dialami perempuan berusia di atas 45 tahun. Kondisi ini tidak selalu sekadar insomnia biasa, melainkan dapat berkaitan dengan perubahan hormonal menjelang atau selama masa menopause.

Secara biologis, penurunan hormon estrogen menjadi salah satu faktor utama. Estrogen berperan penting dalam mengatur suhu tubuh dan siklus tidur. Memasuki usia pertengahan, kadar hormon ini dapat menurun signifikan, yang berdampak pada ketidakstabilan ritme tidur.

Dalam kondisi tersebut, hormon stres seperti kortisol juga berpotensi meningkat pada malam hingga dini hari. Lonjakan kortisol dapat memicu respons tubuh seolah-olah berada dalam situasi darurat, sehingga seseorang tiba-tiba terbangun dan sulit kembali tidur.

Sejumlah praktisi kesehatan menilai, pendekatan penanganan tidak cukup hanya mengandalkan obat tidur. Intervensi perlu menyasar akar masalah, yakni keseimbangan hormon dan regulasi sistem saraf.

Beberapa studi menunjukkan, asupan magnesium—khususnya dalam bentuk magnesium glycinate—berpotensi membantu relaksasi sistem saraf. Konsumsi dalam dosis tertentu sebelum tidur dilaporkan dapat membantu mengurangi gangguan tidur, meskipun tetap perlu dikonsultasikan dengan tenaga medis.

Selain itu, konsumsi jus ceri asam (tart cherry) juga dikaitkan dengan peningkatan produksi melatonin, hormon yang berperan dalam siklus tidur. Sejumlah penelitian awal menunjukkan potensi peningkatan durasi dan kualitas tidur, meski hasilnya dapat bervariasi antar individu.

Faktor lingkungan juga memegang peran penting. Para ahli tidur merekomendasikan suhu kamar yang lebih sejuk, sekitar 18 derajat Celsius. Kondisi ini dinilai membantu tubuh menurunkan suhu inti secara alami, terutama saat kadar estrogen menurun.

Namun demikian, para ahli menekankan bahwa setiap intervensi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi individu. Konsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah utama, terutama jika gangguan tidur berlangsung lama atau disertai gejala lain.

Pendekatan bertahap, mulai dari pengaturan lingkungan tidur hingga evaluasi nutrisi dan hormon, dinilai lebih efektif dan aman dibandingkan solusi instan. Dengan penanganan yang tepat, kualitas tidur pada masa menopause tetap dapat dijaga. (*)

RELATED NEWS