Boeing Pelican ULTRA, Proyek Ambisius yang Tak Pernah DIbangun

Pratiwi - Kamis, 14 Mei 2026 20:32 WIB
ilustrasi

(sijori.id) - Pada awal 2000-an, Boeing melalui divisi Boeing Phantom Works mengembangkan konsep pesawat futuristik bernama Pelican ULTRA, sebuah kendaraan udara raksasa yang dirancang terbang rendah di atas lautan dengan memanfaatkan fenomena ground effect.

Konsep ini dianggap sebagai salah satu proyek paling ekstrem dalam sejarah industri penerbangan karena menggabungkan kemampuan pesawat angkut strategis dengan efisiensi transportasi maritim berkecepatan tinggi.

Menurut laporan FlightGlobal pada 24 September 2002, Pelican ULTRA dirancang sebagai pesawat kargo superbesar yang mampu melintasi samudra sambil terbang rendah di atas permukaan laut.

Kapasitas Fantastis hingga 1.270 Ton

Dokumen teknis yang dipresentasikan di Massachusetts Institute of Technology pada 11 Maret 2004 oleh insinyur Boeing, Bob Liebeck, mengungkap spesifikasi luar biasa dari proyek tersebut.

Pelican ULTRA dirancang memiliki:

  • Bentang sayap sekitar 500 kaki atau 152 meter
  • Panjang badan sekitar 122 meter
  • Bobot lepas landas maksimum mencapai 6 juta pon
  • Kapasitas muatan hingga 2,8 juta pon atau sekitar 1.270 ton

Sebagai perbandingan, bentang sayap pesawat ini hampir dua kali lebih besar dibanding Airbus A380 yang memiliki bentang sayap sekitar 79,8 meter.

Pesawat tersebut bahkan dirancang mampu mengangkut hingga 17 tank tempur M1 Abrams dalam satu penerbangan.

Memanfaatkan Efek Bantalan Udara

Keunggulan utama Pelican ULTRA terletak pada penggunaan fenomena ground effect.

Fenomena ini terjadi ketika pesawat terbang sangat dekat dengan permukaan air atau tanah sehingga udara yang terperangkap di bawah sayap menciptakan semacam bantalan udara. Efek tersebut mengurangi hambatan aerodinamika sekaligus meningkatkan daya angkat.

Dengan sistem ini, Pelican dapat membawa muatan jauh lebih besar dengan konsumsi energi lebih efisien dibanding pesawat konvensional yang terbang di ketinggian tinggi.

Konsep tersebut membuat Pelican lebih mirip “kapal terbang” futuristik dibanding pesawat biasa.

Dirancang untuk Mobilisasi Militer Cepat

Pelican ULTRA muncul di tengah meningkatnya kebutuhan militer Amerika Serikat terhadap sistem transportasi strategis pasca konflik era 1990-an dan awal 2000-an.

Kapal kargo memang mampu membawa muatan besar, tetapi sangat lambat. Sebaliknya, pesawat militer cepat namun memiliki keterbatasan kapasitas.

Pelican berusaha menggabungkan dua keunggulan tersebut: membawa muatan setara kapal laut dengan kecepatan jauh lebih tinggi.

Selain tank dan kendaraan tempur, pesawat ini juga dirancang untuk mengangkut kontainer serta peralatan berat lintas samudra.

Memiliki 76 Roda Pendaratan

Karena ukurannya yang luar biasa besar, Pelican ULTRA membutuhkan sistem roda pendaratan ekstrem.

Pesawat ini dirancang menggunakan 76 roda untuk mendistribusikan bobot raksasa saat lepas landas dan mendarat agar tidak merusak landasan pacu.

Meski demikian, infrastruktur bandara untuk mengoperasikan pesawat sebesar ini diperkirakan akan sangat kompleks dan mahal.

Bisa Terbang Rendah di Laut dan Tinggi di Daratan

Konsep Pelican memiliki dua mode operasi utama.

Saat melintasi samudra, pesawat akan terbang sangat rendah di atas permukaan laut untuk memanfaatkan ground effect dan menghemat energi.

Namun ketika mendekati daratan, kawasan perkotaan, atau rintangan tertentu, Pelican dapat naik ke ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki layaknya pesawat konvensional.

Desain ini membuat banyak pihak membandingkan Pelican dengan ekranoplan Soviet era Perang Dingin, meski dalam ukuran yang jauh lebih besar.

Tak Pernah Dibangun

Walaupun konsepnya sangat ambisius, Boeing akhirnya tidak melanjutkan proyek Pelican ULTRA ke tahap produksi.

Biaya pengembangan yang sangat besar, kebutuhan infrastruktur khusus, tantangan sertifikasi keselamatan, hingga keraguan soal efisiensi ekonomi menjadi alasan utama proyek tersebut berhenti di atas kertas.

Namun demikian, Pelican ULTRA tetap dianggap sebagai salah satu konsep kendaraan transportasi paling visioner dalam sejarah modern.

Hingga kini, gagasan tentang kendaraan ground effect masih terus dipelajari untuk kebutuhan logistik, militer, maupun transportasi masa depan. (*)

RELATED NEWS