BP Batam Perkuat Diplomasi ke Jerman-Jepang

Pratiwi - Rabu, 25 Februari 2026 22:29 WIB
null

JAKARTA (sijori.id) — BP Batam memperkuat diplomasi ekonomi dengan Jerman dan Jepang guna memperluas jejaring investasi global serta mempertegas posisi Batam sebagai pusat industri strategis di kawasan Asia Tenggara.

Langkah tersebut ditandai pertemuan delegasi BP Batam yang dipimpin Anggota/Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan Fary Francis dengan Duta Besar Republik Federal Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, pada Senin (23/2/2026), serta Minister Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia, Kenji Enoshita, pada Selasa (24/2/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Fary didampingi Direktur Investasi Dendi Gustinandar, Direktur Pengembangan KPBPB dan KEK Irfan Syakir Widyasa, serta Kepala Kantor Penghubung BP Batam, Irwan.

Perkuat Kepastian Hukum dan Perizinan

Kepada kedua perwakilan negara mitra, BP Batam memaparkan transformasi kebijakan sepanjang satu tahun terakhir, termasuk penguatan kewenangan perizinan terpadu melalui Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2025 dan perluasan wilayah Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam melalui Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 2025.

Secara teknis, penguatan kewenangan tersebut memberi BP Batam otoritas lebih luas dalam penerbitan izin usaha, pemanfaatan lahan, hingga integrasi layanan kepabeanan di kawasan. Skema ini dirancang untuk memangkas waktu proses investasi, menyederhanakan rantai birokrasi, serta meningkatkan kepastian hukum bagi pelaku usaha.

“Kebijakan ini menjadi landasan kami untuk meningkatkan kepastian berusaha, mempercepat proses investasi, serta mengoptimalkan potensi maritim dan logistik,” ujar Fary dalam keterangan resmi, Selasa (24/2/2026).

Batam sendiri merupakan salah satu motor investasi di Kepulauan Riau. Kawasan ini mengusung status KPBPB yang memberikan insentif fiskal dan nonfiskal, termasuk pembebasan bea masuk dan kemudahan arus barang, sehingga kompetitif dibanding sejumlah kawasan industri lain di Indonesia.

Fokus Industri Teknologi dan Rekayasa

Dalam pertemuan dengan pihak Jerman, diskusi difokuskan pada peluang kolaborasi di sektor industri berteknologi tinggi dan rekayasa teknik. Jerman dikenal sebagai salah satu kekuatan industri manufaktur Eropa, khususnya di bidang otomasi, mesin presisi, dan teknologi hijau.

Menurut BP Batam, Jerman secara konsisten menempati peringkat kedua investor asal Eropa di Batam. Pembahasan juga menyoroti pentingnya stabilitas regulasi serta integrasi ekosistem kawasan untuk memperkuat kemitraan industri jangka panjang.

Pihak Kedutaan Besar Jerman menyampaikan ketertarikan untuk memahami lebih jauh arah pengembangan Batam dalam menarik investasi Eropa, termasuk peluang kolaborasi teknologi dan penguatan rantai pasok industri.

Integrasi KPBPB, KEK, dan PSN

Sementara itu, dialog dengan pihak Jepang membahas integrasi ekosistem kawasan, termasuk sinergi antara KPBPB, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), serta Proyek Strategis Nasional (PSN) yang berada di Batam dan sekitarnya.

Jepang selama ini merupakan salah satu investor utama Batam secara global, terutama di sektor manufaktur elektronik, galangan kapal, dan komponen otomotif. Dalam pertemuan tersebut, penguatan sektor maritim dan logistik menjadi perhatian, sejalan dengan strategi konektivitas regional dan penguatan rantai pasok Asia.

Perwakilan Kedutaan Besar Jepang menilai penguatan kewenangan perizinan yang kini dimiliki BP Batam berpotensi meningkatkan kepastian hukum dan kepercayaan investor untuk memperluas kemitraan di kawasan.

Posisi Batam dalam Arus Investasi Global

Fary menegaskan, diplomasi ekonomi merupakan langkah strategis untuk menjaga daya saing Batam di tengah dinamika ekonomi global yang semakin multipolar dan kompetitif.

“Batam akan terus bertransformasi menjadi execution hub yang menghubungkan arus investasi dan rantai pasok antara Eropa dan Asia,” ujarnya.

Dengan letak geografis yang berdekatan dengan Singapura dan berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka, Batam dinilai memiliki keunggulan komparatif di sektor maritim, logistik, dan manufaktur berorientasi ekspor. Penguatan regulasi dan perluasan kawasan diharapkan menjadi katalis dalam menarik investasi baru sekaligus memperdalam investasi yang sudah ada. (*)

RELATED NEWS