Buang Air Kecil Berdiri Lebih Kotor dari yang Dibayangkan

Pratiwi - Senin, 26 Januari 2026 10:38 WIB
null

(sijori.id) - Kebiasaan buang air kecil berdiri pada pria ternyata menyimpan persoalan kebersihan yang kerap luput dari perhatian. Sejumlah studi menunjukkan bahwa selama sekitar 20 detik proses buang air kecil, percikan urin hampir tidak bisa dihindari, bahkan jika arah semprotan dianggap sudah tepat.

Percikan paling besar terjadi ketika aliran urin mengenai bagian belakang kloset. Pantulan dari permukaan ini dapat menghasilkan ribuan tetesan mikro yang menyebar ke udara. Sementara itu, mengarahkan urin ke bagian tengah air kloset tetap menimbulkan ratusan tetesan kecil yang terlempar ke sekitarnya.

Secara fisika, aliran cairan yang melaju dengan kecepatan tertentu akan pecah menjadi butiran lebih kecil saat bertabrakan di udara. Tetesan mikro ini bisa melayang hingga belasan sentimeter, bahkan dalam kondisi tertentu mencapai hampir satu meter, lalu jatuh ke permukaan di sekitarnya—termasuk lantai, dinding, handuk, tisu, atau sikat gigi yang berada di kamar mandi.

Kebiasaan mengibaskan atau mengguncang setelah buang air kecil juga menambah risiko penyebaran sisa urin. Jika tidak segera dibersihkan, residu ini dapat menumpuk, membentuk kerak urin, dan memunculkan bau tak sedap.

Meski sebagian pria menganggap buang air kecil berdiri sebagai kebiasaan lazim, praktik ini tidak bersifat universal. Di sejumlah negara, seperti Jerman, anak laki-laki justru diajarkan sejak dini untuk buang air kecil sambil duduk demi menjaga kebersihan kamar mandi. Penelitian juga menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam durasi maupun kelancaran buang air kecil antara posisi duduk dan berdiri.

Temuan ini mengingatkan bahwa persoalan kebersihan di kamar mandi bukan sekadar soal kebiasaan, melainkan juga soal dampak yang sering kali tak terlihat. (*)

Tags KesehatanBagikan

RELATED NEWS