Cap Badak, Jejak Soda Legendaris dari Siantar

Pratiwi - Sabtu, 28 Februari 2026 10:11 WIB
null

PEMATANG SIANTAR (sijori) – Minuman soda Cap Badak menjadi salah satu produk legendaris yang bertahan lebih dari satu abad di Indonesia. Dirintis oleh ahli kimia asal Swiss, Hendrik Surbeck, minuman ini diproduksi pertama kali oleh NV Ijs Fabriek Siantar. Ini pabrik es dan minuman legendaris yang didirikan tahun 1916 oleh Heinrich Surbeck, orang Swiss di Pematangsiantar, Sumatera Utara, pada 1916. Pada 21 Januari 1959, nama perusahaan diubah menjadi PT Pabrik Es Siantar.

Berdasarkan catatan perusahaan dan sejumlah literatur sejarah industri minuman ringan di Sumatra Utara, NV Ijs Fabriek Siantar tercatat sebagai salah satu pabrik minuman ringan tertua di Indonesia. Pada awal berdirinya, perusahaan memproduksi es batu dan sari buah markisa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat lokal serta kalangan perkebunan di kawasan tersebut.

Memasuki dekade 1920-an, perusahaan mulai memproduksi minuman berkarbonasi dengan varian rasa sarsaparilla. Produk itu kemudian dikenal dengan merek Cap Badak. Nama “Badak” dipilih sebagai simbol ketangguhan, sejalan dengan strategi menghadapi penetrasi produk minuman ringan impor yang mulai masuk ke Hindia Belanda saat itu.

Sarsaparilla sendiri merupakan minuman beraroma herbal yang secara tradisional dibuat dari ekstrak akar tanaman Smilax ornata. Dalam industri modern, cita rasa tersebut direplikasi melalui formulasi perisa khusus. Karakter rasanya cenderung manis dengan sentuhan herbal dan sensasi soda yang kuat.

Pada masa jayanya, produk ini tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga sempat diekspor ke luar negeri, termasuk Eropa. Meski volume dan periode ekspor tidak lagi terdokumentasi secara rinci, keberadaan Cap Badak menjadi bagian dari jejak industri minuman kolonial di Indonesia.

Hingga kini, PT Pabrik Es Siantar tetap mempertahankan penggunaan botol kaca sebagai kemasan utama. Dari sisi teknis, botol kaca dinilai mampu menjaga stabilitas karbonasi dan karakter rasa lebih baik dibandingkan sebagian kemasan plastik, karena tidak mudah terpengaruh suhu dan tidak bereaksi dengan isi minuman.

Di Pematang Siantar dan Medan, minuman ini juga kerap disajikan dalam bentuk “Susu Badak”, yakni campuran soda sarsaparilla dengan susu kental manis. Menu tersebut populer di kalangan masyarakat setempat dan menjadi bagian dari tradisi kuliner, terutama saat momen berkumpul seperti bulan Ramadan.

Keberlanjutan Cap Badak selama lebih dari 100 tahun menunjukkan daya tahan merek lokal di tengah persaingan industri minuman global. Perusahaan ini telah melalui berbagai fase perubahan kepemilikan dan dinamika pasar, namun tetap mempertahankan identitas produk sebagai minuman khas Pematang Siantar.

Bagi sebagian warga Sumatra Utara, Cap Badak bukan sekadar minuman berkarbonasi, melainkan simbol sejarah dan kebanggaan daerah yang masih bertahan hingga hari ini. (*)

RELATED NEWS