Cara Nyamuk Melacak Manusia Saat Tidur
(sijori.id) - Nyamuk kerap tetap menemukan manusia meski lampu dimatikan dan kipas angin menyala. Para peneliti menyebut, serangga ini memiliki sistem sensor biologis yang sangat sensitif untuk melacak inang—mulai dari karbon dioksida hingga senyawa kimia pada kulit.
Berdasarkan kajian entomologi medis yang dirujuk World Health Organization (WHO), hanya nyamuk betina yang mengisap darah karena membutuhkan protein untuk perkembangan telur. Sementara nyamuk jantan umumnya mengonsumsi nektar tumbuhan.
Berikut penjelasan ilmiah mengenai “lima sensor utama” yang membuat nyamuk efektif menemukan manusia.
1. Deteksi Karbon Dioksida
Setiap kali manusia bernapas, karbon dioksida (CO₂) dilepaskan ke udara. Nyamuk memiliki reseptor kimia pada organ yang disebut maxillary palps di bagian antena, yang mampu mendeteksi peningkatan konsentrasi CO₂ dari jarak puluhan meter, tergantung arah angin.
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan dikutip oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC), lonjakan CO₂ menjadi sinyal awal bagi nyamuk bahwa ada makhluk hidup di sekitarnya. Setelah mendeteksi CO₂, nyamuk akan terbang mengikuti gradien konsentrasi gas tersebut menuju sumbernya.
2. Sensitivitas terhadap Panas Tubuh
Setelah mendekat, nyamuk memanfaatkan sensor panas (thermoreceptors) untuk mengenali suhu kulit manusia yang rata-rata berkisar 32–34 derajat Celsius. Riset biologi perilaku menunjukkan beberapa spesies mampu merespons perbedaan suhu yang sangat kecil di lingkungan sekitarnya.
Kemampuan ini membantu nyamuk membedakan tubuh manusia dari objek lain di malam hari, terutama dalam kondisi minim cahaya.
3. Pelacakan Visual
Meski sering dianggap hanya mengandalkan penciuman, nyamuk juga menggunakan penglihatan. Mata majemuk (compound eyes) mereka sensitif terhadap kontras, gerakan, dan warna gelap. Penelitian menunjukkan pakaian berwarna gelap cenderung lebih mudah menarik perhatian nyamuk dibanding warna terang.
Dalam radius beberapa meter, kombinasi gerakan tubuh dan kontras visual memperkuat sinyal bahwa target berada di dekatnya.
4. Deteksi Keringat dan Senyawa Kimia Kulit
Tubuh manusia mengeluarkan berbagai senyawa volatil seperti asam laktat, amonia, dan asam lemak melalui keringat. Senyawa ini terdeteksi oleh reseptor kimia pada antena nyamuk.
Itulah sebabnya seseorang yang baru berolahraga atau berkeringat lebih banyak cenderung lebih menarik bagi nyamuk. Faktor genetika dan komposisi mikrobiota kulit juga memengaruhi jenis senyawa yang dilepaskan, sehingga daya tarik tiap individu bisa berbeda.
5. Preferensi Golongan Darah
Sejumlah studi menyebutkan nyamuk tertentu menunjukkan preferensi terhadap golongan darah O dibandingkan A atau B. Namun para peneliti menegaskan bahwa golongan darah bukan satu-satunya faktor penentu.
Sebagian orang juga mengeluarkan “penanda sekretor” (secretor status) melalui kulit yang secara kimiawi dapat dikenali nyamuk. Meski demikian, klaim persentase tertentu harus dibaca hati-hati karena hasil penelitian dapat berbeda antarspesies nyamuk dan kondisi lingkungan.
Ancaman Kesehatan Global
Lebih dari sekadar gangguan tidur, nyamuk merupakan vektor berbagai penyakit seperti malaria, demam berdarah dengue, hingga Zika. Data WHO mencatat ratusan ribu kematian akibat malaria setiap tahun secara global, menjadikan pengendalian populasi nyamuk sebagai prioritas kesehatan masyarakat.
Dengan kombinasi sensor karbon dioksida, panas, visual, dan kimia, nyamuk dapat menemukan manusia secara efisien bahkan dalam kondisi gelap. Para ahli menilai, pemahaman terhadap mekanisme ini penting untuk mengembangkan strategi pencegahan yang lebih efektif, seperti penggunaan repelan, kelambu, hingga pengendalian lingkungan. (*)
