Diam Bukan Lemah, Otak Mereka Bekerja Lebih Dalam

Pratiwi - Kamis, 19 Februari 2026 21:39 WIB
null

(sijori.id) - Saya sudah terlalu sering jadi “yang diam” di meja makan Brooklyn untuk tahu bagaimana skenarionya berjalan.

Seseorang melempar pertanyaan. Tiga orang langsung berbicara bersamaan. Saya duduk dengan gelas anggur di tangan, memutar gagasan di kepala seperti batu halus, menimbang sudut pandang, memikirkan apa yang benar-benar ingin saya sampaikan. Saat akhirnya siap bicara dengan sesuatu yang matang, obrolan sudah melompat ke topik lain.

Biasanya ada yang menyimpulkan: saya bosan, sedih, atau terlalu malu untuk ikut nimbrung. Padahal kenyataannya justru sebaliknya—saya mungkin satu-satunya yang benar-benar mendengarkan.

Situasi itu bukan cuma terjadi di meja makan. Di rapat kantor, diskusi klub buku, bahkan saat mediasi perceraian, saya mengalami hal yang sama. Pengacara saya sampai menyenggol, meminta saya lebih banyak bicara, seolah-olah diam berarti kalah.

Belakangan, setelah membaca berbagai kajian neurosains, saya mulai paham: saya tidak menarik diri dari percakapan. Saya justru masuk lebih dalam ke dalamnya. Saat orang lain berebut waktu bicara, otak saya bekerja dengan cara berbeda.

Psikologi punya istilah untuk kondisi ini. Bukan pemalu. Bukan pula cemas sosial. Ini disebut deep processing—cara memproses informasi secara mendalam yang memang berbeda dari kebiasaan mayoritas orang.

Otak yang Bekerja di Balik Keheningan

Perbedaannya bermula dari struktur otak. Sejumlah riset neurosains menunjukkan, individu introvert memiliki tingkat rangsangan kortikal (cortical arousal) yang lebih tinggi sejak kondisi istirahat. Artinya, bahkan di ruang sunyi sekalipun, otak mereka sudah bekerja pada level stimulasi yang relatif tinggi.

Bukan kekurangan. Bukan kelemahan. Ini sekadar perbedaan sistem saraf.

Secara sederhana, orang ekstrovert cenderung mencari stimulasi eksternal—lebih banyak obrolan, aktivitas, hal baru—karena otaknya membutuhkan itu untuk mencapai titik optimal. Mereka banyak digerakkan oleh dopamin, neurotransmitter yang memberi sensasi “hadiah” dari hal-hal baru.

Sebaliknya, introvert lebih banyak bergantung pada asetilkolin, zat kimia otak yang mendukung fokus tenang dan perhatian yang terarah ke dalam. Mereka sudah mencapai titik optimal lewat aktivitas internal.

Di sinilah konsep lain muncul: need for cognition. Dalam psikologi, ini adalah kecenderungan menikmati proses berpikir yang serius dan mendalam. Orang dengan kebutuhan kognitif tinggi tidak sekadar ikut percakapan—mereka “mencerna” percakapan itu.

Mereka membaca subteks. Menghubungkan dengan pengalaman atau bacaan lain. Memikirkan implikasi dan kontradiksi. Tiga langkah lebih maju dari apa yang terdengar di permukaan.

Di titik ini, orang pendiam sebenarnya tidak pernah benar-benar sunyi. Mereka hanya “berisik” di dalam kepala.

Apa yang Sebenarnya Dilakukan Orang Pendiam

Saat saya duduk diam di meja diskusi, ada proses yang berjalan rapi di kepala.

Seseorang membuat pernyataan. Saya mengujinya dengan pengetahuan yang saya punya. Saya membayangkan bagaimana dampaknya pada situasi lain. Saya mencoba menebak emosi yang tersembunyi di balik kata-kata itu. Lalu saya bertanya pada diri sendiri: apakah respons saya akan menambah nilai, atau sekadar ikut bicara supaya terlihat aktif?

Inilah yang sering tidak dipahami: orang pendiam bukan tidak terlibat. Mereka sedang menyaring. Memilah. Memutuskan mana yang layak disampaikan.

Riset tentang pemrosesan mendalam menunjukkan, saat seseorang berpikir reflektif, aktivitas otak meningkat pada area yang berkaitan dengan pemaknaan—bukan sekadar produksi suara.

Temuan dari Harvard Grant Study bahkan menunjukkan, individu dengan hubungan yang lebih sedikit namun lebih dalam cenderung memiliki tingkat kepuasan hidup lebih tinggi dibanding mereka yang punya jaringan sosial luas tetapi dangkal.

Ini bukan kebetulan. Orang pendiam tidak gagal bersosialisasi. Mereka memilih kedalaman dibanding kecepatan.

Saya melihat pola ini di banyak tempat. Di kelas keramik yang saya ikuti, ada seorang perempuan yang hampir tak bersuara pada sesi perkenalan. Banyak yang mengira ia gugup atau belum percaya diri. Empat minggu kemudian, justru dialah yang mengajari peserta lain cara memusatkan tanah liat dengan benar.

Ia tidak sibuk tampil. Ia sibuk mengamati, mendengar, dan memproses.

Salah Tafsir yang Mahal

Sayangnya, harga sosial dari gaya berpikir seperti ini cukup mahal.

Sejumlah studi tentang persepsi sosial menunjukkan, orang yang jarang berbicara kerap dinilai kurang kompeten, kurang percaya diri, bahkan kurang layak memimpin. Ada jurang persepsi yang nyata.

Ironisnya tajam: mereka yang paling hati-hati memikirkan setiap kata justru sering dianggap tidak hadir.

Padahal bisa jadi, merekalah yang paling dalam terlibat. (*)

RELATED NEWS