Dua Lansia Bertahan Hidup dari Kebun dan Obat Alami

Pratiwi - Senin, 05 Januari 2026 23:50 WIB
null

BRASIL (sijori.id) - Di kawasan Serra Catarinense, Brasil selatan, dua saudari berusia 72 dan 73 tahun menjalani hidup mandiri di sebuah lahan pertanian. Tanpa pendamping tetap, keduanya bertahan dari kebun sayur organik seluas lebih dari satu hektare, ternak sapi perah, serta unggas penghasil telur.

Setiap pekan, hasil kebun dan olahan susu itu mereka bawa ke pasar tradisional. Kale, bit, buncis, jagung manis, hingga buah ara menjadi komoditas rutin yang dijajakan, bergantung musim panen. Susu segar diolah menjadi keju dan kue dadih untuk menambah nilai jual.

Rutinitas itu dijalani di sekitar rumah mereka di Tencílio Costa. Kebun membentang mengelilingi rumah, berfungsi layaknya lumbung hidup: panen dilakukan bertahap, pasokan selalu tersedia, dan sisa hasil tak terjual kembali ke dapur atau diolah ulang.

Dalam hal kesehatan, keduanya memilih jalan berbeda. Mereka menolak obat-obatan industri dan sepenuhnya mengandalkan tanaman obat. Setiap pagi, jus hijau racikan sendiri menjadi bagian dari perawatan harian. Bagi mereka, tanaman obat bukan pelengkap, melainkan metode utama menjaga kesehatan—bahkan untuk keluhan seperti diabetes.

Pengelolaan kebun dilakukan tanpa pestisida dan tanpa pembakaran. Limbah organik diolah kembali menjadi kompos. Prinsipnya sederhana: tanah harus dijaga agar tetap memberi kehidupan. Konsekuensinya, kerja fisik tak ringan. Menyiangi rumput dan merawat tanaman dilakukan hampir setiap hari.

Keanekaragaman di lahan itu tak berhenti pada sayuran. Ada ubi, labu, hingga tanaman obat seperti marcela. Empat ekor sapi menghasilkan susu harian, sementara ayam menyuplai telur. Babi dan anak sapi menjadi bagian dari siklus kerja pertanian mereka.

Salah satu saudari pernah menjadi guru sekolah dasar selama 28 tahun, sebagian besar mengajar di pedesaan. Ia kembali ke kampung halaman setelah pensiun, bergabung dengan sang kakak yang tak pernah meninggalkan tanah itu. Latar belakang ini menjelaskan mengapa keduanya mampu mengelola pertanian secara mandiri.

Namun di balik kemandirian itu, terselip kegelisahan. Mereka mengaku takut akan isolasi dan merasa perlu dihargai. Lingkungan sekitar yang didominasi perkebunan kedelai skala besar memunculkan kekhawatiran akan paparan pestisida terhadap kebun dan kesehatan mereka. (*)

Tags pertanian organikBagikan

RELATED NEWS