Hong Wang Cetak Sejarah, Jadi Perempuan China Pertama Raih Fields Medal 2026

Pratiwi - Minggu, 26 Juli 2026 15:24 WIB
null

(sijori.id) - Matematikawan kelahiran China, Hong Wang, mencatat sejarah sebagai perempuan China pertama yang meraih Fields Medal 2026, penghargaan paling bergengsi di dunia matematika yang kerap dijuluki sebagai "Hadiah Nobel Matematika".

Penghargaan tersebut diumumkan dalam pembukaan International Congress of Mathematicians (ICM) di Philadelphia, Amerika Serikat, Kamis (24/7) waktu setempat.

Tahun ini juga menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya dua matematikawan asal China meraih Fields Medal secara bersamaan. Selain Hong Wang, penghargaan juga diberikan kepada Yu Deng, sementara dua penerima lainnya adalah John Pardon dari Amerika Serikat dan Jacob Tsimerman dari Kanada.

Fields Medal Hanya Diberikan Setiap Empat Tahun

Fields Medal diberikan setiap empat tahun kepada dua hingga empat matematikawan berusia di bawah 40 tahun yang dinilai memiliki kontribusi luar biasa sekaligus potensi besar dalam pengembangan ilmu matematika.

Sejak pertama kali diberikan sekitar 90 tahun lalu, Hong Wang menjadi perempuan ketiga yang berhasil memenangkan penghargaan bergengsi tersebut.

Wakil Presiden sekaligus Presiden terpilih International Mathematical Union (IMU), Ulrike Tillmann, menyebut keempat penerima tahun ini telah memberikan kontribusi besar di bidang masing-masing.

Ia juga menyambut positif semakin banyak perempuan yang meraih penghargaan tertinggi di bidang matematika.

"Sudah seharusnya menjadi hal yang normal bahwa perempuan juga berkontribusi pada level tertinggi dalam matematika, termasuk memenangkan Fields Medal," ujarnya.

Hong Wang Pecahkan Masalah Matematika Berusia Seabad

Hong Wang berasal dari Kota Guilin, China. Dalam video yang dirilis IMU, ia mengenang kegemarannya menyelesaikan soal matematika sejak kecil.

Menurutnya, menemukan jawaban dari sebuah persoalan selalu memberikan kepuasan sekaligus pemahaman yang lebih dalam terhadap matematika.

Nama Hong Wang dikenal luas setelah berhasil menyelesaikan konjektur Kakeya dalam tiga dimensi, persoalan matematika yang telah menjadi tantangan selama lebih dari satu abad. Penelitian tersebut dikerjakannya bersama matematikawan Joshua Zahl dari University of British Columbia.

IMU menyebut pencapaian tersebut membuka jalan bagi berbagai perkembangan baru dalam bidang analisis harmonik, persamaan diferensial parsial, teori ukuran geometri, dan cabang matematika lainnya.

Yu Deng Diapresiasi atas Kontribusi pada Fisika Matematika

Penerima Fields Medal lainnya dari China, Yu Deng, berasal dari Shenzhen.

Peneliti yang kini berkarier di University of Chicago tersebut mendapat penghargaan atas kontribusinya dalam membangun dasar-dasar matematika yang menjelaskan hukum-hukum fisika dari prinsip pertama.

Penelitian penting Deng dilakukan bersama Zaher Hani dari University of Michigan dan Xiao Ma.

Menurut IMU, karya Deng menjadi lompatan besar dalam upaya matematikawan dan fisikawan memahami hukum dasar alam semesta melalui pendekatan matematika.

Menempuh Pendidikan Lanjut di Barat

Meski sama-sama mengawali pendidikan tinggi di Peking University, Hong Wang dan Yu Deng melanjutkan studi serta mengembangkan karier akademik di luar China.

Yu Deng kemudian pindah ke Massachusetts Institute of Technology (MIT) sebelum meraih gelar doktor di Princeton University.

Sementara Hong Wang melanjutkan studi pascasarjana di Prancis dan menyelesaikan program doktoralnya di MIT. Saat ini ia melakukan penelitian di New York University (NYU) serta Institut des Hautes Études Scientifiques (IHÉS) di Prancis.

Raih Sambutan Hangat di China

Keberhasilan Hong Wang dan Yu Deng disambut antusias oleh warganet di China. Banyak yang menganggap pencapaian tersebut sebagai kebanggaan nasional.

Namun, penghargaan ini juga memunculkan diskusi mengenai fenomena brain drain, karena kedua ilmuwan tersebut membangun karier riset di Amerika Serikat dan Eropa, bukan di China.

Beberapa pengguna media sosial mempertanyakan mengapa banyak lulusan terbaik China memilih melanjutkan pendidikan dan penelitian di luar negeri.

Di sisi lain, pemerintah China dalam beberapa tahun terakhir terus berupaya menarik ilmuwan global melalui berbagai program, termasuk peluncuran visa K pada 2025 untuk talenta teknologi asing dan program QiMing yang ditujukan bagi peneliti di bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Hadiah dan Prestise

Selain memperoleh medali emas bergambar matematikawan Yunani kuno Archimedes, setiap peraih Fields Medal menerima hadiah uang sebesar 15.000 dolar Kanada atau sekitar 11.000 dolar AS.

Meski demikian, bagi Yu Deng, penghargaan bukanlah motivasi utama.

Ia mengatakan rasa ingin tahu terhadap bagaimana matematika mampu menjelaskan alam semesta menjadi alasan terbesar dirinya menekuni bidang tersebut.

"Kebahagiaan terbesar adalah ketika rencana penelitian berhasil dan pertanyaan yang selama ini dihadapi akhirnya dapat terpecahkan," ujarnya. (*)

RELATED NEWS