Industri Micro Drama, Karier Baru bagi Lulusan China
BEIJING (sijori.id) — Lebih dari 10 juta mahasiswa di China lulus setiap tahun, menciptakan tekanan besar pada pasar tenaga kerja yang sudah padat. Di tengah kondisi tersebut, industri micro drama atau drama pendek berdurasi beberapa menit muncul sebagai alternatif sumber penghidupan baru bagi ratusan ribu pekerja muda yang kesulitan memasuki industri kerja tradisional.
Berdasarkan laporan dari Peking University National School of Development, sektor ini diperkirakan secara langsung menciptakan sekitar 690.000 lapangan kerja pada 2025, mayoritas untuk pekerja muda. Jika dihitung dari rantai produksi hulu hingga hilir, dampak ekonominya diperkirakan mencapai lebih dari 2 juta posisi kerja.
Fenomena ini muncul seiring perubahan pola konsumsi hiburan digital. Micro drama memiliki alur cerita cepat, konflik intens, dan plot twist yang dirancang untuk mempertahankan perhatian penonton dalam waktu singkat. Model produksi seperti ini relatif lebih mudah diakses dibandingkan produksi drama televisi konvensional yang membutuhkan modal besar dan jaringan industri lebih kompleks.
Produksi Lebih Cepat, Kesempatan Kerja Lebih Luas
Data dari Xinhua menunjukkan bahwa produksi micro drama nasional telah stabil di sekitar 3.000 judul per bulan. Industri ini juga menunjukkan spesialisasi kerja yang semakin matang dibandingkan masa awal kemunculannya.
Pada tahap awal, satu tim produksi micro drama biasanya hanya terdiri dari sekitar 12 orang. Namun, kini satu proyek produksi dapat melibatkan 60 hingga 90 pekerja, mencakup berbagai spesialisasi teknis seperti:
- Penyutradaraan
- Sinematografi
- Tata cahaya
- Kostum dan properti
- Manajemen produksi
Perubahan ini mencerminkan transformasi industri dari model produksi amatir menjadi semi-profesional. Dengan durasi syuting yang relatif singkat—sekitar 5 hingga 10 hari—industri ini menerapkan sistem produksi berulang yang memungkinkan pekerja memperoleh penghasilan lebih stabil dibandingkan pekerjaan proyek film skala kecil.
Menurut para peneliti laporan tersebut, sistem produksi cepat ini menjadi daya tarik utama bagi lulusan yang belum mendapatkan pekerjaan tetap, termasuk lulusan luar negeri.
Dari Pengangguran Menuju Pekerjaan Kreatif
Fenomena ini tercermin dalam pengalaman banyak pekerja muda. Salah satunya adalah Shutian Yu, lulusan master dari University of Sussex yang berusia awal 30-an.
Melalui unggahan media sosialnya pada 2024, Yu mengungkapkan bahwa ia dapat memperoleh penghasilan hingga 15.000 yuan atau sekira Rp 36.753.345 per bulan dari akting micro drama. Ia bahkan menginvestasikan sekitar sekira Rp 171.515.610 dari tabungannya sendiri untuk memproduksi micro drama dengan merekrut teman-temannya sebagai kru produksi.
Kasus Yu menunjukkan pola baru dalam ekonomi kreatif, di mana pekerja tidak hanya menjadi aktor, tetapi juga merangkap sebagai produser dan investor kecil. Model ini meningkatkan risiko finansial, namun juga membuka peluang pendapatan yang lebih fleksibel.
Pasar Bernilai Puluhan Miliar Yuan
Menurut China Television Drama Production Industry Association, nilai pasar micro drama pada 2024 telah melampaui 50,5 miliar yuan (sekira Rp 123 miliar), bahkan melampaui pendapatan box office nasional. Proyeksi menunjukkan pasar dapat tumbuh hingga 85,6 miliar yuan (sekira sekira Rp 209 Triliun) pada 2027.
Jumlah penonton juga meningkat pesat, dengan lebih dari 660 juta penonton mengakses konten micro drama secara nasional pada 2024. Pertumbuhan ini menjadikan micro drama sebagai salah satu sektor dengan pertumbuhan tercepat dalam industri hiburan China.
Para pengamat industri menyebut pertumbuhan tersebut didorong oleh perubahan perilaku konsumsi masyarakat urban, yang lebih menyukai hiburan cepat dan mudah diakses melalui platform digital.
Menghidupkan Ruang-ruang Kosong Perkotaan
Selain menciptakan lapangan kerja, boom micro drama juga mengubah fungsi ruang komersial yang tidak terpakai.
Di Xinzheng, Provinsi Henan, sebuah pusat perbelanjaan yang tidak beroperasi kembali difungsikan menjadi lokasi syuting. Dalam waktu kurang dari satu tahun, lokasi tersebut digunakan untuk memproduksi sekitar 700 judul micro drama dan menerima delapan hingga sembilan tim produksi setiap hari.
Fenomena serupa terjadi di berbagai wilayah lain, di mana gedung perkantoran dan kawasan industri yang tidak terpakai disewakan secara harian atau per jam sebagai lokasi produksi.
Transformasi ini memberikan dampak ekonomi tambahan bagi pemilik properti yang mengalami stagnasi bisnis selama perlambatan sektor ritel dan properti komersial.
Tantangan Industri Film Tradisional
Meski menjanjikan peluang baru, industri micro drama juga dipandang sebagai respons terhadap keterbatasan industri film dan televisi konvensional dalam menyerap tenaga kerja muda.
“Industri film dan televisi tradisional semakin terbatas dalam menyerap talenta muda,” ujar Guan Zhi, produser film independen. Ia menambahkan bahwa micro drama berkembang sangat cepat dalam dua tahun terakhir karena mampu menarik penonton sekaligus menciptakan peluang investasi dan karier baru.
Namun, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa industri ini masih menghadapi tantangan seperti standar kualitas produksi, perlindungan hak pekerja, serta ketidakpastian pendapatan bagi pekerja lepas. (*)
