Investor Sadar Pentingnya Investasi Berkelanjutan Berbasis Enviroment, Social and Governance
JAKARTA (sijori.id) - Managing Director and Global Head of ESG Jeffries, Aniket Shah, mengatakan dari penelitian yang dilakukan selama bertahun-tahun ditemukan bahwa investor Barat sudah sadar betul akan pentingnya investasi berkelanjutan berbasis Enviroment, Social and Governance (ESG).
Dia menyebut bahwa investor Barat tidak hanya mengatakan bahwa mereka akan mengintegrasikan pertimbangan lingkungan dan sosial ke dalam pengambilan keputusan investasinya, tetapi mereka juga benar-benar melakukan penyelarasan portofolionya secara khusus dengan numerik, target dan metrik untuk masa yang akan datang.
"Itu menggambarkan bahwa mereka ingin menyelaraskan investasi mereka dengan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola," katanya dalam acara MIF 2022.
Untuk itu, dia menyarankan kepada pemerintah Indonesia untuk bisa membuat kebijakan berbasis ESG agar bisa menarik minat investor asing untuk membenamkan uangnya di Indonesia. Jika tidak, maka sulit bagi Indonesia untuk mendapatkan bantuan internasional dalam membiayai upaya menuju transisi energi terbarukan.
"Saya ingin memperjelas bahwa ini adalah sesuatu yang investor inginkan dan ini berpotensi membuat pasar negara berkembang menjadi kelaparan dari modal internasional," pungkasnya.
Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia belum lama ini mengatakan selama ini memang investor asing dari AS dan negara-negara Barat lainnya sangat sedikit membenamkan uangnya di NKRI.
Hal itu terlihat dari realisasi investasi pada tahun 2021 lalu yang masih didominasi oleh negara-negara Asia. Singapura, misalnya, realisasi investasinya mencapai US$9,4 miliar (30,2%), kemudian diikuti Hongkong sebesar US$4,6 miliar 14,8%), China sebesar US$3,2 miliar (10,2%), AS sebesar US$2,5 miliar (8,2%) dan Jepang US$2,3 miliar (7,3%).
Bahlil mengatakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir Singapura selalu mendominasi negara lain dalam berinvestasi di Indonesia.
Namun sebetulnya, dia menduga bahwa investor dari Singapura tersebut bisa saja merupakan orang Indonesia tetapi mengatasnamakan Singapura. Pasalnya, Singapura menjadi pusat atau tempat transit perputaran uang para investor global.
"Singapura ini hub untuk beberapa negara untuk masuk ke Indonesia," tegas Bahlil.
Adapun, realisasi investasi pada tahun 2021 mencapai Rp901,02 triliun, atau mencapai 100,1% dari target Kementerian Investasi/BKPM sebesar Rp900 triliun. Realisasi ini tumbuh 9% yoy dan menyerap tenaga kerja sebanyak 1,2 juta orang.
