Jakarta Kota Termacet se-Asia Tenggara
(sijori.id) - Kemacetan lalu lintas menjadi masalah klasik kota-kota besar di Asia Tenggara. Namun, data global terbaru menempatkan satu kota jauh di atas yang lain. Jakarta dinobatkan sebagai kota termacet di kawasan ini.
Berdasarkan INRIX Global Traffic Scorecard 2025, Jakarta mencatat dampak kemacetan tertinggi di Asia Tenggara, diukur dari jumlah jam yang hilang akibat terjebak macet.
INRIX adalah perusahaan analitik transportasi asal Amerika Serikat yang mengolah data lalu lintas real-time dari jutaan kendaraan, aplikasi navigasi, GPS, sensor jalan, dan sistem transportasi pintar di seluruh dunia.
Rata-rata pengendara di ibu kota Indonesia kehilangan 83 jam sepanjang 2025 hanya untuk menunggu di jalan. Angka ini bahkan masuk 10 besar termacet di dunia.
Tak heran jika mayoritas responden dalam kuis publik berhasil menebak Jakarta sebagai kota termacet. Sebanyak 61 persen peserta menjawab benar, mengungguli Bangkok dan Manila.
Jakarta juga dikenal dengan agenda car free day yang rutin digelar setiap Minggu pagi. Kegiatan ini berlangsung di ruas utama Jalan Sudirman dan M.H. Thamrin sejak pukul 06.00 hingga 11.00 WIB. Pada jam tersebut, kendaraan bermotor pribadi dilarang melintas di kawasan tertentu.
Tingginya tingkat kemacetan tak lepas dari jumlah kendaraan, khususnya sepeda motor. Data BPS DKI Jakarta mencatat lebih dari 9,1 juta sepeda motor terdaftar pada 2024. Angka itu menjadikan motor sebagai moda transportasi paling dominan di ibu kota.
Jakarta juga memiliki julukan unik: “The Big Durian.” Sebutan ini menggambarkan karakter kota yang besar, padat, keras, namun punya daya tarik tersendiri—mirip buah durian yang berduri tajam dan beraroma kuat.
Sementara itu, posisi kedua kota termacet di Asia Tenggara ditempati Bangkok. Ibu kota Thailand tersebut mencatat kehilangan waktu hingga 76 jam per pengendara akibat kemacetan, hanya terpaut tipis dari Jakarta. (*)
