Kapan Waktu Terbaik untuk Buang Air Besar?
(sijori.id) - Buang air besar (BAB) mungkin terdengar sebagai topik sepele, tetapi kondisi feses sebenarnya bisa menjadi indikator penting kesehatan tubuh. Frekuensi, bentuk, hingga waktu seseorang BAB dapat memberikan gambaran mengenai pola makan, hidrasi, hingga kemungkinan adanya gangguan kesehatan tertentu.
Meski frekuensi BAB normal dapat berbeda pada setiap orang — mulai dari dua kali sehari hingga tiga kali seminggu — para ahli menyebut ada waktu tertentu yang dianggap paling ideal untuk buang air besar.
Menurut ahli gastroenterologi Will Bulsiewicz, sebenarnya tidak ada satu waktu “sempurna” yang berlaku untuk semua orang. Namun, menjaga ritme BAB yang konsisten jauh lebih penting dibanding jam spesifiknya.
“Tubuh manusia bekerja mengikuti ritme alami yang selaras dengan siklus matahari. Ketika ritme usus berjalan baik, kita cenderung memiliki BAB yang teratur dan memuaskan,” jelasnya.
Senada dengan itu, ahli gastroenterologi Kenneth Brown mengatakan pagi hari umumnya menjadi waktu terbaik bagi kebanyakan orang untuk BAB.
Mengapa Pagi Hari Dianggap Ideal?
Ada beberapa alasan biologis yang membuat pagi hari lebih optimal untuk buang air besar.
1. Ritme Sirkadian Tubuh
Tubuh manusia memiliki jam biologis internal atau ritme sirkadian yang mengatur berbagai fungsi, termasuk sistem pencernaan. Pada pagi hari, aktivitas usus besar cenderung meningkat secara alami.
Selain itu, kadar hormon kortisol juga meningkat setelah bangun tidur dan dapat merangsang gerakan usus.
2. Penumpukan Feses Saat Tidur
Saat tidur, sistem pencernaan bekerja lebih lambat sehingga usus besar memiliki waktu untuk mengumpulkan sisa makanan menjadi feses.
Ketika bangun pagi, aktivitas usus kembali meningkat sehingga tubuh lebih siap melakukan BAB.
3. Refleks Gastrocolic Setelah Makan
Makan atau minum dapat memicu refleks gastrocolic, yaitu respons alami tubuh yang merangsang kontraksi usus besar.
Refleks ini biasanya paling kuat di pagi hari, terutama setelah minum air putih, kopi, atau sarapan tinggi serat.
Faktor yang Memengaruhi Jadwal BAB
Selain ritme tubuh, ada sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi frekuensi maupun waktu seseorang BAB.
Pola Makan
Makanan tinggi serat membantu memperlancar pencernaan dan mempermudah pengeluaran feses. Sebaliknya, konsumsi makanan ultra-proses dan rendah serat dapat memicu sembelit.
Kecukupan cairan juga penting karena dehidrasi membuat feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan.
Aktivitas Fisik
Olahraga rutin membantu meningkatkan pergerakan usus. Sebaliknya, terlalu lama duduk dan kurang bergerak dapat memperlambat sistem pencernaan.
Stres
Stres dapat memengaruhi hubungan antara otak dan usus atau gut-brain axis. Pada sebagian orang, stres memicu diare, sementara pada lainnya menyebabkan sembelit.
Perjalanan dan Jet Lag
Perubahan zona waktu, pola makan, hingga kurang aktivitas saat bepergian sering kali membuat jadwal BAB menjadi tidak teratur.
Kondisi Kesehatan dan Obat-obatan
Beberapa penyakit seperti Irritable Bowel Syndrome, Crohn's disease, diabetes, hingga gangguan saraf dapat memengaruhi pola BAB.
Selain itu, obat-obatan tertentu seperti opioid dan beberapa antidepresan juga dapat menyebabkan konstipasi.
Cara Membentuk Jadwal BAB yang Teratur
Para ahli menyarankan sejumlah langkah sederhana agar sistem pencernaan lebih teratur:
- Membiasakan bangun dan tidur di jam yang konsisten
- Mengonsumsi sarapan tinggi serat
- Minum cukup air
- Rutin berolahraga
- Mengelola stres
- Menyediakan waktu khusus untuk BAB setiap pagi
Menurut Bulsiewicz, seseorang bahkan bisa “melatih” tubuh agar BAB di waktu tertentu dengan rutin duduk di toilet sekitar lima menit setelah sarapan atau minum kopi setiap pagi.
Kapan Harus Waspada?
Perubahan mendadak pada frekuensi, bentuk, atau konsistensi feses sebaiknya tidak diabaikan. Jika diare atau sembelit berlangsung lebih dari dua minggu, terasa nyeri, atau disertai gejala lain, disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Pada akhirnya, para ahli menekankan bahwa yang paling penting bukanlah seberapa sering seseorang BAB, melainkan apakah proses tersebut terasa lancar, tuntas, dan nyaman bagi tubuh. (*)
