Kenaikan Harga BBM Tekan Operator Ferry Singapura–Batam,

Pratiwi - Rabu, 18 Maret 2026 13:37 WIB
null

SINGAPURA (sijori.id) — Lonjakan harga bahan bakar global sejak pecahnya Perang Rusia–Ukraina mulai berdampak signifikan pada operasional transportasi laut di kawasan regional. Sejumlah operator ferry rute Singapura–Batam terpaksa mengurangi frekuensi perjalanan hingga 40 persen guna menekan biaya operasional yang kian meningkat.

Salah satu operator utama, Batam Fast Ferry, menyatakan bahwa biaya bahan bakar telah meningkat hingga tiga kali lipat sejak konflik berlangsung. Dalam sepekan terakhir, perusahaan bahkan membatalkan sekitar dua perjalanan per hari karena rendahnya tingkat keterisian penumpang yang tidak lagi menutup biaya operasional.

Sebagai respons, operator juga menerapkan strategi efisiensi dengan menggabungkan penumpang dan mengoptimalkan kapasitas kursi sebelum keberangkatan. Kolaborasi dilakukan dengan operator lain seperti Sindho Ferry untuk memastikan setiap perjalanan memiliki tingkat okupansi yang memadai, khususnya untuk rute dengan permintaan lebih rendah seperti kawasan pesisir Batam.

Di sisi tarif, penumpang kini dikenakan tambahan biaya sebesar 6 dolar Singapura per tiket sebagai fuel surcharge. Kebijakan ini mulai berlaku seiring tekanan biaya energi yang terus meningkat.

Sejumlah penumpang mengaku khawatir tren kenaikan tarif akan berlanjut. Mereka menilai biaya tambahan berpotensi meningkat sewaktu-waktu, sejalan dengan volatilitas harga energi global.

Tekanan serupa juga dirasakan pelaku wisata bahari. Operator tur laut Yacht Cruise SG melaporkan biaya pengisian bahan bakar kapal kini mencapai sekitar 800 dolar Singapura per perjalanan, naik sekitar 45 persen dibandingkan sebelumnya.

Alih-alih menaikkan harga layanan, perusahaan memilih mengurangi jumlah perjalanan harian dari lima menjadi tiga trip guna mengendalikan konsumsi bahan bakar. Selain itu, pola operasional juga diubah dengan menggabungkan kelompok penumpang agar perjalanan tetap efisien secara ekonomi.

“Kami menyesuaikan jadwal agar tetap beroperasi tanpa merugi. Dengan kondisi harga BBM saat ini, model lama sudah tidak lagi berkelanjutan,” ujar perwakilan operator.

Dalam jangka menengah, sejumlah pelaku industri mulai mempertimbangkan transisi ke kapal listrik sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil. Investasi pada teknologi ini dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah ketidakpastian harga energi global.

Pengamat transportasi menilai kondisi ini mencerminkan tekanan struktural pada sektor transportasi laut regional, yang sangat bergantung pada harga energi. Jika tren kenaikan biaya berlanjut, penyesuaian tarif dan pengurangan frekuensi perjalanan diperkirakan masih akan terjadi, terutama pada rute wisata dan jarak pendek seperti Singapura–Batam. (*)

RELATED NEWS