Ketika Rusia Tembak Jatuh Rudalnya Sendiri

Pratiwi - Selasa, 02 April 2024 22:48 WIB
null

MOSKOW (sijori.id) - Pada Minggu 31 Maret 2024 dini hari sistem pertahanan udara Rusia mengklaim menembak jatuh drone Ukraina. Tetapi penelitian lebih lanjut menunjukkan objek yang dicegat ternyata rudal mereka sendiri yang hendak menyerang posisi lawan.

Insiden itu terjadi di distrik Krasnoarmeysky di wilayah Saratov. Rudal yang ditembak jatuh adalah Kh-101 yang oleh NATO diberi kode AS-23 Kodiak. Rudal jelajah subsonik dengan karakter siluman ini diluncurkan dari pembom Tu-95, yang ditujukan ke wilayah Ukraina.

Awalnya, laporan menyatakan bahwa sistem pertahanan udara berhasil menembak jatuh drone bunuh diri yang diluncurkan oleh Ukraina. Pemerintah setempat juga mengklaim kemenangan dalam menangkis serangan tersebut.

Namun laporan sejumlah media Senin 1 April 2024 menyebutkan, penelitian lebih lanjut di lokasi jatuhnya objek yang dicegat mengungkapkan puing-puing yang konsisten dengan rudal jelajah KH-101. Pejabat dari Kementerian Pertahanan Rusia menolak mengomentari insiden tersebut. Namun sejumlah bloger militer Rusia mengkonfirmasi peristiwa tersebut.

Kejadian ini menambah rentetan kemalangan yang melibatkan aset militer Rusia. Khususnya, sistem pertahanan udara Rusia. Sebelumnya mereka menjatuhkan jet tempur Su-27 mereka sendiri di wilayah Krimea yang mereka kuasai.

Sebelumnya juga muncul laporan sejumlah jet tempur Rusia termasuk Su-34 dan Su-35 ditembak sendiri oleh pertahanan udara mereka. Kejadian seperti ini menggarisbawahi bagaimana kekacauan medan perang kerap memunculkan pesoalan dalam organisasi dan koordinasi.

Insiden pada Minggu tersebut terjadi saat Rusia terus melakukan serangan udara ke wilayah Ukraina. Target utama serangan adalah infrastruktur energi.

Serangan rudal jelajah Rusia di wilayah Lviv barat Ukraina menghancurkan sebuah bangunan dan memicu kebakaran. Sementara di wilayah Kharkiv, proyektil menghantam pompa bensin. Dua orang meninggal dalam serangan di dua daerah tersebut.

Angkatan Udara Ukraina menyebut Rusia pada hari Minggu tersebut meluncurkan 16 rudal dan 11 drone ke seluruh Ukraina. “Sistem pertahanan udara kami menjatuhkan sembilan drone dan sembilan rudal,” kata Angkatan Udara Ukraina. Namun mereka tidak mengidentifikasi target yang diserang.

Serangan juga terjadi di wilayab Odessa yang menyebabkan ratusan ribu orang di wilayah tersebut kehilangan aliran listrik. Sebuah drone Rusia disebut menghantam fasilitas energi dan memunculkan kebakaran. Otoritas setempat mengatakan sekitar 170.000 rumah mengalami pemadaman listrik akibat serangan itu.

Operator listrik swasta terbesar di Ukraina DTEK sehari sebelumnya mengatakan lima dari enam pembangkit listriknya telah rusak atau hancur. Ini mengakibatkan 80% kapasitas pembangkitnya hilang. Semetnara perbaikan paling cepat membutuhkan waktu hingga 18 bulan.

Selama lebih dari seminggu, Rusia telah meningkatkan serangan udara terhadap fasilitas energi Ukraina. Ini menyebabkan kerusakan signifikan dan mengancam warga Ukraina dengan pemadaman listrik yang berulang. Kondisi yang juga mereka alami pada musim dingin pertama perang.

Bantuan Prancis

Sementara itu Prancis dilaporkan akan mengirimkan ratusan kendaraan lapis baja tua dan rudal permukaan-ke-udara baru ke Ukraina. Hal itu disampaikan Menteri Pertahanan Prancis Sebastien Lecornu dalam sebuah wawancara dengan La Tribune Dimanche.

“Ukraina perlu mempertahankan garis depan yang sangat panjang. Ini menjadikan mereka memerlukan kendaraan lapis baja untuk mobilitas pasukan,” katanya. Kendaraan ini juga merupakan bagian dari permintaan Ukraina.

Prancis menurutnya sedang mempertimbangkan untuk menyediakan ratusan pengangkut pasukan garis depan VAB pada tahun 2024 dan awal tahun 2025. Tentara Perancis secara bertahap mengganti ribuan VAB mereka yang pertama kali beroperasi pada akhir tahun 1970-an dengan kendaraan yang baru. Prancis juga bersiap untuk mengirimkan sejumlah rudal permukaan-ke-udara Aster 30 baru untuk sistem SAMP/T ke Kyiv. Aster 30 dapat mencegat pesawat tempur, drone, dan rudal jelajah dalam jarak 120 km.

Menurut Prancis Ukraina mempunyai kebutuhan mendesak akan pertahanan darat-udara yang lebih baik. Ini karena mengintensifkan serangannya.

Prancis juga mempercepat pengembangan amunisi yang dioperasikan dari jarak jauh untuk dikirim ke Ukraina pada awal musim panas ini. (*)

Tags RusiaBagikan

RELATED NEWS