Kota-kota Eropa Mulai Batasi Koper Beroda

Pratiwi - Senin, 05 Januari 2026 19:49 WIB
null

EROPA (sijori.id) - Koper beroda tampak sepele—sampai bunyinya memantul di jalan batu tua saat fajar. Di sejumlah kota Eropa, keluhan warga dan debat soal overtourism memaksa otoritas bertindak. Bukan larangan total, melainkan pembatasan yang menyasar ketertiban, kebisingan, dan perlindungan situs bersejarah.

Umumnya, kebijakan itu jatuh ke tiga pola.

  • Pertama, kampanye imbauan agar wisatawan mengangkat tas di zona sensitif.
  • Kedua, aturan yang membatasi barang beroda di tangga, jembatan, atau jalur bersejarah.
  • Ketiga, penegakan ketertiban umum ketika koper menghalangi lorong sempit atau memicu gangguan. Berikut kota-kota dengan langkah paling nyata.

Dubrovnik, Kroasia
Kota Tua Dubrovnik menjadi contoh klasik “perlawanan” pada suara roda koper. Pemerintah kota mengimbau tamu tak menyeret koper di dalam tembok kota dan mempromosikan layanan penitipan hingga waktu check-in. Penegakan bersifat edukatif, dengan sinyal sosial yang kuat: seret koper dibatasi, hotel diminta mengingatkan tamu, dan rute lebih datar diarahkan untuk mengurangi bunyi.

Venesia, Italia
Isu larangan koper kerap jadi judul besar, meski praktiknya roda masih terlihat setiap hari. Yang konsisten dibatasi adalah troli besar di rute tertentu demi melindungi jembatan dan paving batu. Penumpang diarahkan ke halte vaporetto, porter disiapkan agar koper tak “dipantulkan” di tangga. Norma jam tenang ikut ditekankan—angkat koper lebih disarankan saat pagi buta.

Roma, Italia
Roma menautkan aturan koper pada pelestarian monumen. Di area seperti Spanish Steps, menarik atau membanting koper di tangga bisa ditegur. Trotoar umum tetap boleh, tetapi zona marmer dan tangga bersejarah dilindungi. Banyak pelancong memilih taksi atau mengangkat koper singkat dari stasiun untuk menghindari konflik di koridor pejalan kaki.

Portofino, Italia
Tak ada larangan roda, namun ada aturan perilaku wisatawan. Koper disebut sebagai bagian dari upaya mencegah kemacetan di ruang publik mungil. Denda bisa dikenakan bila orang berlama-lama sambil membawa barang besar di jalur utama pelabuhan. Pesannya jelas: langsung ke hotel atau penitipan, bukan berhenti untuk foto.

Hydra, Yunani
Hydra mengambil garis paling tegas—larangan kendaraan beroda sudah lama berlaku. Jalanan berupa tangga dan jalur batu membuat koper beroda jadi problem praktis, bahkan berpotensi pelanggaran. Hotel menyiapkan porter dan hewan angkut. Wisatawan dianjurkan ransel atau duffel yang mudah dipanggul.

Florence, Italia
Sering disebut dalam isu “larangan koper”, Florence sejatinya mengandalkan aturan kebisingan malam dan pengendalian kerumunan di pusat bersejarah. Hotel menyarankan taksi dari stasiun dan menghindari kedatangan larut dengan roda keras. Bukan pelarangan, melainkan pengelolaan lewat tata tertib yang ada.

Barcelona, Spanyol
Fokus Barcelona adalah kebisingan malam dan trotoar yang terhalang di kawasan tua. Tak ada aturan kota yang melarang koper beroda, tetapi penindakan gangguan publik diperketat. Menyeret koper di jam tenang atau berhenti di ambang pintu bisa ditegur. Properti mengarahkan check-in siang dan rute lebih mulus.

Amsterdam, Belanda
Di sabuk kanal, aturan hidup layak diperketat. Roda koper tak diatur khusus, namun perilaku mengganggu bisa ditindak. Tuan rumah dan hotel mengingatkan jam tenang, tangga curam, dan jembatan sempit. Pesannya sederhana: bergerak cepat, jangan berisik, dan hindari batu bata saat malam.

Praha, Ceko
Klaim larangan koper sering beredar, namun kebijakan spesifik sulit dibuktikan. Yang ada adalah penegakan ketertiban saat kebisingan dan hambatan melampaui batas. Sejumlah akomodasi membatasi jam check-in untuk mencegah kedatangan dini hari.

Aman diasumsikan roda boleh—asal tak diseret bising melewati pintu apartemen. (*)

Editor: Pratiwi

RELATED NEWS