Malaysia Jadi Basis Ekspansi Muslim Tiongkok
KUALA LUMPUR (sijori.id) – Malaysia menjadi tujuan utama pengusaha Muslim asal Tiongkok yang ingin mengembangkan bisnis ke luar negeri. Bukan karena ukuran pasar, melainkan faktor bahasa, keberagaman budaya, dan lingkungan bisnis yang relatif mudah dipahami.
Sejak pandemi Covid-19, Malaysia tak lagi dipandang sekadar tujuan akhir, melainkan titik awal untuk membangun sistem bisnis, sumber daya manusia, dan produk sebelum merambah pasar regional.
Dengan populasi lebih dari 34 juta jiwa, termasuk sekitar 20 juta Muslim dan lebih dari enam juta etnis Tionghoa, Malaysia dianggap sebagai titik masuk yang paling rasional bagi pelaku usaha Muslim Tiongkok.
Presiden Malaysia Chinese Restaurant Association, Gao Haoyun, menjelaskan bahwa faktor bahasa menjadi kunci utama. Mayoritas pengusaha Muslim Tiongkok fasih berbahasa Mandarin, namun kurang menguasai bahasa Inggris. Kondisi ini membuat Malaysia lebih mudah dijadikan tempat berbisnis.
“Lingkungan multikultural Malaysia memungkinkan mereka mengurus pendirian perusahaan, administrasi bisnis, hingga perekrutan karyawan dalam bahasa Mandarin,” ujar Gaoseperti dikutip dari Malay Mail.
Selain faktor bahasa, kebijakan pro-bisnis dan hubungan bilateral yang kuat antara Malaysia dan Tiongkok turut mendorong ekspansi usaha pascapandemi. Industri makanan dan minuman di Tiongkok terpukul keras akibat pembatasan aktivitas selama pandemi, sehingga banyak pelaku usaha halal mencari pasar luar negeri untuk mengurangi risiko dan mendorong pertumbuhan.
Di Malaysia, bisnis kuliner Tiongkok—termasuk yang berbasis halal—terkonsentrasi di tiga pusat kota utama: George Town, Johor Bahru, dan Lembah Klang. Di antara ketiganya, Lembah Klang menjadi wilayah dengan pertumbuhan tercepat sekaligus tingkat persaingan tertinggi.
Secara nasional, terdapat sekitar 20 ribu hingga 25 ribu gerai kuliner Tiongkok. Sekitar 60 persen di antaranya berada di Lembah Klang, atau sekitar 11 ribu hingga 12 ribu gerai.
Meski Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia, Malaysia tetap menjadi pilihan pertama bagi pengusaha Muslim Tiongkok. Menurut Gao, faktor politik, bahasa, serta kompleksitas regulasi bisnis membuat Indonesia kurang diminati sebagai langkah awal ekspansi.
Ia juga menyoroti stabilitas politik Malaysia dan representasi etnis Tionghoa di berbagai level pemerintahan sebagai faktor yang memberi rasa aman bagi pelaku usaha.
Meski demikian, Indonesia tidak sepenuhnya diabaikan. Banyak pengusaha Muslim Tiongkok membangun fondasi bisnis di Malaysia terlebih dahulu sebelum memperluas usaha ke Indonesia, dengan dukungan mitra lokal yang menguasai banyak bahasa.
Secara keseluruhan, keunggulan Malaysia terletak pada faktor bahasa, stabilitas politik, dan kemudahan berbisnis—yang membuat negara tersebut tetap unggul sebagai pintu masuk ekspansi bisnis di Asia Tenggara. (*)
