Manfaat Sujud bagi Otak, Ini Penjelasannya
(sijori.id) – Gerakan sujud dalam salat kerap disebut memiliki manfaat kesehatan, termasuk bagi fungsi otak. Klaim yang beredar menyebutkan bahwa saat dahi menyentuh lantai dan posisi kepala lebih rendah dari jantung, aliran darah kaya oksigen meningkat ke bagian otak tertentu, terutama area pengendali emosi dan pengambilan keputusan.
Secara fisiologis, posisi kepala yang lebih rendah dari jantung memang memengaruhi distribusi darah. Dalam dunia medis, fenomena ini dikenal sebagai perubahan hemodinamik akibat pengaruh gravitasi terhadap sirkulasi darah. Ketika seseorang menundukkan kepala atau berada pada posisi seperti sujud, tekanan hidrostatik dapat meningkatkan aliran darah ke bagian atas tubuh untuk sementara waktu.
Dokter spesialis saraf menjelaskan, otak manusia memiliki mekanisme autoregulasi yang menjaga suplai darah tetap stabil meski posisi tubuh berubah. Tubuh memiliki sistem yang memastikan aliran darah ke otak relatif konstan, baik saat berdiri, duduk, maupun menunduk. Jadi, peningkatan aliran darah biasanya bersifat sementara dan terkendali.
Bagian otak yang sering dikaitkan dengan manfaat sujud adalah prefrontal cortex, yaitu wilayah di bagian depan otak yang berperan dalam fungsi eksekutif seperti pengambilan keputusan, pengendalian emosi, serta respons terhadap stres. Secara ilmiah, fungsi area ini memang berkaitan dengan regulasi kecemasan dan kontrol diri.
Namun, hingga kini belum ada penelitian klinis berskala besar yang secara spesifik menyimpulkan bahwa sujud secara langsung “membanjiri” prefrontal cortex dengan oksigen dalam jumlah signifikan atau menyembuhkan gangguan kecemasan. Sejumlah studi tentang praktik ibadah dan meditasi memang menunjukkan adanya penurunan kadar hormon stres seperti kortisol serta aktivasi sistem saraf parasimpatis, yang berperan dalam respons relaksasi tubuh.
Dalam konteks salat, sujud tidak berdiri sendiri. Gerakan ini merupakan bagian dari rangkaian aktivitas fisik ringan yang dilakukan berulang kali. Menurut pakar fisiologi olahraga, aktivitas fisik ringan yang teratur dapat membantu sirkulasi darah, meningkatkan fleksibilitas otot, dan memberikan efek relaksasi, terutama bila disertai konsentrasi dan pernapasan teratur.
Selain faktor fisik, aspek psikologis juga berperan penting. Sikap tunduk dan fokus dalam ibadah dapat memicu respons relaksasi yang menurunkan aktivitas sistem saraf simpatik—bagian sistem saraf yang aktif saat stres—dan meningkatkan aktivitas parasimpatik yang menenangkan. Respons inilah yang kerap diasosiasikan dengan rasa damai dan berkurangnya kecemasan setelah beribadah.
Dari sisi pengalaman di lapangan, banyak umat Islam mengaku merasakan ketenangan mendalam saat sujud, terutama dalam kondisi emosional yang berat. Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa pengalaman subjektif tersebut perlu dibedakan dari klaim medis yang memerlukan pembuktian ilmiah terukur.
Secara umum, posisi tubuh dengan kepala lebih rendah dari jantung memang dapat memengaruhi distribusi darah secara sementara. Namun, manfaat kesehatan dari sujud lebih mungkin berasal dari kombinasi gerakan fisik ringan, ritme pernapasan, serta kondisi mental yang khusyuk dan reflektif.
Dengan demikian, sujud dapat dipahami tidak hanya sebagai bentuk ketundukan spiritual, tetapi juga sebagai aktivitas fisik dan psikologis yang berpotensi memberikan efek relaksasi. Meski begitu, klaim penyembuhan atau manfaat medis spesifik tetap memerlukan penelitian ilmiah lebih lanjut agar dapat dinyatakan secara pasti dan terukur. (*)
