Mengamati Migrasi Burung Raptor

Pratiwi - Senin, 01 November 2021 07:29 WIB
Nampak volunteer dari Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI dan Burung Indonesia tengah melakukan pengamatan migrasi beberapa jenis burung raptor yang melintas di kawasan Puncak,Bogor Jawa Barat, Minggu 31 Oktober 2021. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

BOGOR (sijori.id) - Setiap Bulan Mei dan Oktober, warga dunia memperingati Hari Burung Migrasi Sedunia. Peringatan ini menjadi penting bukan hanya untuk mengenal keaneragaman burung, namun juga sebagai indikator kondisi alam yang menjadi habitat satwa terbang tersebut.

Hal ini semakin dikuatkan dengan tema tahun ini yaitu "Nyanyikan, Terbang, Menjulang – Seperti Burung!" (Sing, Fly, Soar - Like A Bird!) dimana warga dunia diharapkan dapat meyuarakan aspirasi mereka untuk kelestarian burung migrasi dan habitat tempat mereka tinggal. Berbeda dengan pengamatan sebelumnya di bulan Mei yang mengamati burung air, di bulan Oktober ini Biodiversity Warriors Yayasan KEHATI bersama Burung Indonesia mengamati jenis burung pemangsa (raptor) yang bermigrasi melintasi kawasan Puncak Bogor Jawa Barat.

Mengamati satwa migrasi yang berada di puncak piramida makanan ini memang selalu menarik, terutama hubungannya dengan kondisi dan kelestarian alam, dan dampak yang bisa diberikan. Namun sayangnya, burung pemangsa ini memiliki keterancaman yang tinggi ketika bermigrasi, termasuk di wilayah Indonesia. Dampak perubahan iklim, deforestasi, degradasi, dan fragmentasi lahan menyebabkan rusak dan berkurangnya habitat dan sumber pakan mereka. Belum lagi dengan adanya perburuan liar.

Hari Burung Migrasi mengajak masyarakat dunia untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap kelestarian burung dan habitatnya. Hal pertama-tama yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan burung migran. Selain menyenangkan, melalui pengamatan bisa disisipkan edukasi tentang burung migran itu sendiri, termasuk burung pemangsa.

Perjalanan burung pemangsa atau raptor dari belahan bumi utara ke belahan bumi selatan ini penuh dengan perjuangan yang menantang maut. Demi menuju ke daerah yang menyediakan sumber makanan yang cukup, mereka rela berpergian antar benua dengan jarak ribuan kilometer. Beberapa risiko mereka hadapi seperti cuaca ekstrim, tersesat, bahkan sampai diburu oleh para pemburu liar. Risiko ini mereka hadapi pada perjalanan pergi dan pulang ke daerah asalnya.

Bisa dikatakan, separuh hidup burung pemangsa dihabiskan untuk perjalanan menantang maut ini. Burung-burung pemangsa ini dapat mengetahui kapan mereka harus bermigrasi dengan mendeteksi perubahan suhu di daerah asalnya. Selain itu, mereka melihat posisi matahari untuk mengetahui musim di daerah asalnya ketika berada di daerah migrasi. Ketika bermigrasi mereka memanfaatkan daerah singgahan untuk beristirahat, mencari makan, dan menghindari cuaca esktrim.

Foto : Panji Asmoro/TrenAsia

Tags migrasi burungBagikan

RELATED NEWS