Mengapa Ayam Tidak Melawan "Pencuri" Telurnya?

Pratiwi - Senin, 12 Januari 2026 16:45 WIB
null

(sijori.id) - Pernah bertanya, kenapa ayam tidak menyerang saat telurnya diambil?
Padahal jika kita meraih telur tepat di depan matanya, ayam bisa marah dan mematuk. Namun anehnya, jika telur diambil sambil diberi makan, ia seolah tak peduli.

Penjelasannya ada pada biologi reproduksi ayam.

Ayam tidak bereproduksi seperti mamalia. Sperma ayam jantan bisa bertahan hidup di dalam tubuh induk betina hingga 2 minggu. Selama periode itu, setiap telur yang dihasilkan berpeluang dibuahi. Tujuan biologis induk ayam bukan menjaga satu telur, melainkan memaksimalkan jumlah telur dalam satu sarang.

Masalahnya, ayam tidak bisa membedakan telur yang dibuahi dan yang tidak. Ia tidak “menghitung” peluang, hanya mengenali jumlah. Di kepalanya ada semacam target: sarang harus terisi penuh. Selama belum penuh, ia akan terus bertelur. Baru setelah itu, ia akan mengerami telur-telur tersebut.

Jika satu telur hilang, ayam tidak mencarinya. Ia hanya masuk ke “mode penggantian” dan bertelur lagi. Manusia kemudian menemukan celah biologis ini. Telur-telur diambil, tapi satu telur dibiarkan di sarang sebagai penanda. Selama sarang tidak kosong, ayam merasa aman. Namun karena belum penuh, dorongan biologisnya memaksanya terus bertelur.

Bahkan, telur itu bisa diganti dengan bola pingpong atau batu bulat. Bentuk dan keberadaan sudah cukup bagi ayam untuk mengira targetnya belum tercapai. Bukan karena ayam tidak marah, melainkan karena dorongan naluriah—mirip obsesi—memaksanya menyelesaikan “kuota”.

Asal-usul perilaku ini bisa ditelusuri jauh ke masa dinosaurus. Ayam adalah keturunan langsung kelompok dinosaurus Oviraptor dari periode Jura. Ya, secara biologis, nugget ayam memang “kerabat dinosaurus”.

Pada masa itu, telur sering dicuri predator. Dinosaurus yang bertahan hidup bukan yang melawan pencuri, melainkan yang mampu bertelur lebih cepat daripada telur-telurnya dicuri. Strategi “kuantitas mengalahkan kualitas” ini tertanam kuat dalam DNA ayam modern.

Hasilnya luar biasa. Ayam kini menjadi salah satu spesies paling sukses di bumi. Kita membiakkan mereka agar tumbuh cepat, efisien, dan produktif. Ayam pedaging modern hanya butuh sekitar 1,6 pon pakan untuk menghasilkan 1 pon daging. Hidup mereka singkat dan padat—tragis dari sudut pandang individu.

Namun dari sudut pandang genetik, ayam adalah pemenang besar. Manusia menyembelih sekitar 70 miliar ayam setiap tahun, tetapi justru memastikan gen mereka tersebar ke seluruh planet. Selama manusia ada, ayam hampir mustahil punah.

Pertanyaannya kemudian: siapa sebenarnya yang menjinakkan siapa? Manusia memelihara ayam demi daging dan telur. Namun bisa jadi, ayam justru “menjinakkan” manusia—memanfaatkan selera makan kita untuk memastikan kelangsungan gen mereka di planet ini. (*)

Tag:

Meta Description:

Tags ayam Bagikan

RELATED NEWS